WHATT A .... ?!

Thursday, October 28, 2010

SAKITNYA SAKIT oleh : Dyah Mahasasi Swastantika

Thursday, October 14, 2010


            Bulan suci Ramadhan baru saja berlalu. Setelah para kerabat pulang ke rumah masing-masing, kue Lebaran dan kantong kembali menipis kita kembali kepada kehidupan seperti biasa. Sebagian kecil yang sukses mendapatkan berkah Lailatul Qadr mungkin akan merubah pola pikir dan tindak tanduk tanpa disuruh-suruh, lebih positif dan progresif daripada sebelumnya. Sedangkan sebagian lainnya yang belum mendapat berkah harus sabar menunggu hingga Ramadhan berikutnya. Anyway, yang jelas, semua Muslim kini bebas untuk makan dan minum di siang hari. Bebas dari teriakan protes keroncongan di perut selama sebulan kemarin. Bebas dari rasa sakit yang dengan sengaja disongsong guna meraih kepuasan spiritual dalam rangka mengenal sifat-sifat Dia dan menjadi kekasihNya.
            Sejak kanak-kanak kita sudah diajarkan bahwa sakit dan rasa sakit itu sama sekali tidak menyenangkan. Penderitaan datang daripadanya, dan kita harus menjauhinya sedapat mungkin. Apabila suatu saat terjatuh dan menangis kesakitan maka ayah dan ibu tercinta akan cepat-cepat datang menolong. Bermaksud menenangkan tangisan kita beliau memukul lantai atau batu kerikil yang menyebabkan kita terpelanting. Maka semenjak detik itu juga terbentuk pemahaman dalam benak kita mengenai rasa sakit dan penderitaan,  semuanya disebabkan oleh hal-hal yang berada di luar diri kita. Artinya, kalau kita tersandung batu manakala mata terlalu serius memperhatikan sosok bahenol di seberang jalan, maka si batulah yang salah, ngapain juga dia harus menghalangi jalan kita.
            Bukan maksud saya menyalahkan sikap para orang tua kita. Namun, zaman beliau-beliau lahir dan dibesarkan tidak serumit era cyber goro-goro saat ini. Jadi, kita harus menerima dengan dada lapang apabila ‘menyalahkan si batu’ tadi ternyata menyesatkan perjalanan kita di masa dewasa. Entah sudah berpuluh ribu kali kita harus berjalan, tersandung, terjatuh, terperosok bahkan tenggelam karena silau akan gemerlap surga dunia. Memang akhirnya mau tak mau kita akan bangkit dan berjalan kembali. Namun, sosok tersebut bukanlah seorang suciwan atau suciwati yang akan dengan mudah memaafkan diri sendiri apalagi orang-orang lain. Pada suatu masa ia berjalan ke depan tanpa menoleh ke kanan kiri belakang, namun rasa pahit yang dipelihara membuat ia lagi-lagi tersesat.

Si Tamu Tidak Diundang
            Seorang teman pernah bercerita tentang betapa sakti mandragunanya seorang tamu tak diundang yang mampir ke rumahnya beberapa waktu yang lalu. Pagar rumahnya tinggi meruncing, gembok rangkap 3, alarm anti maling selalu on dan cctv standby di sudut-sudut rumah, toh teman ybs akhirnya menangisi kepergian mobil sedan barunya yang raib digondol si ‘ tamu ‘. ‘ Mungkin si penggondol itu punya aji sirep kali ya ? ‘ keluh teman saya. ‘ Oo ya bisa juga, ‘ timpal saya. ‘ Mungkin dia juga punya ilmu pelet, ilmu meringankan tubuh, ilmu menghilang dan kebal peluru dan kebal polisi, otot kawat, tulang jemuran …’
            Pencuri, apapun jenis kelaminnya, tak peduli dia bercadar ninja atau berkerah putih, entah mencuri hati Anda ataupun uang negara, memang begundal yang layak untuk dimaki-maki. Si tamu tak diundang itu bukan saja mengambil barang kesayangan yang dibeli oleh butir keringat kerja keras. Namun juga memberi kita sebuah hadiah istimewa bernama marah, sedih dan sumpah serapah kebun binatang. Harga barang yang hilang mungkin sangat mahal, namun emosi lebih mahal lagi karena tidak ada obatnya di apotik terdekat.
            Ia membikin otak panas seperti mau meledak. Seperti sebuah luka yang belum lama mengering, tiba-tiba terbuka karena siraman air garam, diiris-iris sembilu untuk kemudian digoreng di wajan nafsu duniawi. Kemudian ia menjelma merasuk ke dalam kerusuhan, tawuran, kekerasan, permusuhan, syak wasangka berskala internasional, nasional, daerah, RT RW maupun rumah tangga. Tumpahan lahar gunung api memang sangat mengerikan, apalagi yang sudah tersimpan begitu lama. Karena ia tidak ragu lagi untuk menerjang membinasakan apa dan siapa saja yang berdiri di depannya. Saat si bijak berusaha membunuh perasaan ini, yang didapat hanyalah menggiring angin. Ibarat suporter bonex, semakin diusir, semakin liar pula serangan baliknya.
            Emosi tidak bisa dienyahkan, kecuali kita menghembuskan nafas terakhir. Hanyalah ingatan dan kewaspadaan kelas tinggi manusialah yang bisa menaklukkannya. Seandainya kita belum cukup punya kemampuan untuk itu, mari membuat sebuah keranjang sampah. Letakkanlah sebentar logika dan berpalinglah pada aktivitas yang menguras isi perasaan Anda. Misalnya, memutar piringan hitam lagu-lagu rohani, menggambar pemandangan, memberi makan ikan-ikan dan burung peliharaan, memainkan senar ukulele atau mengencani seniman/seniwati ganteng/ ayu,  kaya dan terkenal.

Masokis rasa Kismis ?
            Mendengar kata yang satu ini mungkin lamunan Anda akan melayang-layang kepada sesuatu kejanggalan seseorang ketika berkencan dengan kekasihnya, cokot mencokot, cambuk kuda lumping, rantai kapal, dll ( Kalau sudah cukup umur Anda bisa menyaksikan contoh-contohnya di website Hentai ). Konon kabarnya, sindrom ini menjangkiti mereka-mereka yang mengalami depresi akibat pengalaman kontak fisik yang mengerikan di usia dini. Mereka, kaum masokis ini, diberi berkah berupa semacam perasaan bahagia melimpah ruah di kala berhasil menyakiti dirinya sendiri baik physically maupuan sexually.  Namun pada perkembangannya, masokis bukan hanya menjadi momok peraduan hasrat Anda. Ia, tanpa kita sadari, ternyata sudah melebarkan sayapnya ke dalam segala macam aspek kehidupan sosial kemasyarakatan manusia.
            Apabila tujuan hidup manusia di dunia ini adalah untuk mencari ketentraman ( yang entah betah bersembunyi di relung hati sebelah mana ), dan bukan hanya sekedar kesejahteraan materi belaka, maka sudah seharusnyalah kita mencari dimana ia berada. Namun apa daya, semakin dikejar semakin menjauhlah dia. Jangankan untuk mencari, ada juga sebagian kaum yang kurang beruntung dalam mendefinisikan makna di balik ketentraman. Telah dicari ke ujung dunia, bahkan di sela-sela tumpukan jerami, tiada jua bersua. Manakala kita sudah lelah dan kehabisan tenaga untuk meneriaki dan menyalahkan dunia atas kegagalan mendapatkan ketentraman sejati, marilah berhenti berlari dan mengambil nafas panjang sejenak.
            Tanpa kita sadari, entah sudah puluhan, ratusan, jutaan kali kita menyakiti hati sendiri dalam satu hari, satu tahun, dua dasawarsa maupun seumur hidup kita. Kita tahu bahwa berkata bohong itu salah, namun di masa sekolah dasar entah sudah berapa kali kita membohongi orang tua guna mencari alasan pulang terlambat. Kita tahu menyiksa binatang itu dilarang agama, namun kita berseru kegirangan saat jangkrik aduan kita menang. Kita tahu mengutil itu dipotong tangan hukumannya, namun sembari berlagak klepto kita sering merasa tak berdosa saat mengutil di swalayan terdekat. Kita tahu selingkuh itu sadis, namun lagu-lagu cinta bertemakan salah satu penyakit cinta kronis manusia sejak zaman sepur lempung itu nyaris selalu disukai anak-anak muda. Kita tahu merokok itu tidak baik untuk kesehatan, tapi kalau pabrik rokok ditutup semua lalu kemanakah para pekerjanya dan petani tembakau mencari makan ? Kita tahu korupsi itu merugikan banyak sekali orang, namun toh masih ada juga kaum sesat yang membanggakan hasil kekayaan yang diperoleh berkat tipu muslihat. Kita tahu pembantaian massal itu bukan saja keji - hati pelakunya mungkin terbuat dari batu kali, namun tahun demi tahun berjalan tanpa secuil penjelasan pun tentang tragedi A, B, G, F, S dan Z.
            Anda boleh-boleh saja menghakimi gerombolan pecinta tatoisme dan piercingisme sebagai masokis maniak dan kurang normal. Tapi toh hanya 0,99 % dari mereka tidak siap dengan resiko sakit dan tjap buruk dari para tetangga. Hanya mereka yang kurang makan bangku sekolahan tidak dapat menjelaskan arti di balik sebuah tato di hidung dan tindik di tenggorokan. Mengapa harus oknum-oknum misterius menghabisi nyawa mereka satu per satu di era 1980-an ? Toh mereka cuma mengekspresikan rasa sakitnya dan berjuang sekuat tenaga untuk menempatkannya setara selilit kismis di sela-sela gigi,  tak pernah berniat menyakiti orang lain kecuali tubuh milik pribadi.
Idealnya sih, menjalani dan menghabiskan waktu menghirup udara di Bumi ini dengan normal-normal saja, tanpa perlu harakiri menjemput rasa sakit di dalam hati maupun di sekujur badan. Akan tetapi, hidup ini pun menyuguhkan sekian banyak pilihan, pula sekian ribu resiko yang harus ditanggung penumpang sendiri-sendiri. Selanjutnya terserah Anda …
           

           

           
           
           

THE BLACKNYAN TREE

Thursday, October 7, 2010

PERTEMUAN

Tuesday, September 7, 2010


Saya pegang ajaran Multatuli bahwa kewajiban manusia adalah menjadi manusia
( Pramudya Ananta Toer )

            Saat manusia mini berbentuk jabang bayi dipaksa keluar dari rahim hangat ibundanya, ia menangis tersedu-sedu. Selama ini kita mengira dia menangis karena kedinginan, atau terkejut matanya mendadak silau oleh cahaya. Kepercayaan tradisional Jawa mengatakan, bayi yang baru lahir menangis karena harus berpisah dengan ‘ saudara-saudaranya ‘, kakang ( kakak ) kawah ( ketuban ), adhi ( adik ) ari-ari ( plasenta ) dan sedulur papat ( saudara empat lainnya, yaitu darah dan tali pusar ), yang selama 9 bulan sudah setia menemaninya. Dan karenanya jabang bayi sadar musti menjalani hidup sendiri saja.
            Seiring dengan berjalannya waktu, manusia kecil itu pun mengetahui, ternyata ia tidak benar-benar sendiri di dunia ini. Ada keluarga, teman-teman, saudara-saudara, kolega, tetangga-tetangga, dan masih banyak lagi, tergantung kepada seberapa jauh dia menceburkan diri ke dalam jejaring pergaulan sosial. Di tengah-tengah mereka ia mendapatkan kasih sayang, perhatian, nasihat dan saran-saran, serta uang jajan. Semua tercipta dan tersedia begitu sempurna,  untuk dirinya seorang. Lama-lama tubuh yang dulu mungil kini tinggi menjulang. Dan tiba saatnya ia melangkahkan kaki keluar rumah.
            Ketika anak-anak tumbuh dewasa dan mengenal dunia luar, maka sadarlah ia hanya sebiji kuku hitam. Alam raya ternyata menawarkan kebebasan untuk memilih antara jalan gelap dan terang. Namun, karena ia anak kemarin sore yang imut dan lugu, maka sebersit keraguan merongrong dirinya. Jalan mana yang musti dipilih ? Jalan terang yang sesuai dengan norma-norma dan nasihat orang tua, ataukah jalan gelap yang ( mungkin ) menyimpan misteri dan maksiat ?  
            Di sekelilingnya ia dikepung teman sebaya yang sama-sama kebingungan, dan juga ketakutan. Takut tidak memperoleh pengakuan atas keberadaan mereka sebagai manusia setengah anak-anak, ataukah manusia setengah dewasa, atau malah setengah manusia sama sekali. Sekelompok ABG gagal mengatasi ketakutannya sendiri dan imbas langsungnya adalah kehilangan keyakinan atas kemampuannya untuk meraih pengakuan dari teman sekelas, teman satu geng dan pacar teman. Mereka yang meratapi kegagalannya menanam, memupuk dan bahkan berburu untuk menemukan bibit pohon jati diri untuk tumbuh dewasa akhirnya memilih jalan pintas destruktif berupa narkobis, balapan liar, tawuran massal, penggerebekan ini itu, kalau tidak membunuhi sesama makhluk hidup yang tak berbicara dengan bahasa manusia, misalnya hutan hujan atau lumba-lumba Kalderon ( seperti yang dilakukan ABG laki-laki setiap tahun di Denmark dalam rangka mendemonstrasikan kejantanan mereka ).
           
Us ( are not ) Vs Them
Mantan presiden RI pertama, Soekarno, tercatat dalam sejarah dunia sebagai pemimpin pemberani meskipun ngluruk tanpo bolo ( menyerang sendirian ), saat beliau menyatakan Indonesia keluar dari keanggotaan PBB pada 7 Januari 1965.  Pemerintah Soekarno menganggap PBB telah menjadi boneka Imperialisme dan neo-kolonialisme Amerika dan sekutunya.  Malaysia diterima sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, yang mana adalah posisi incaran hampir setiap negara di dunia hingga saat ini. Bung Karno berasumsi bahwa Malaysia adalah negara boneka bikinan negara-negara Barat yang hendak memecah belah persatuan orang-orang Asia Tenggara, untuk kemudian menguasai tanah milik kaum bumiputra dan mengambil alih kekayaan alamnya. Bung Karno berkata, "PBB dalam susunannya yang sekarang tidak mungkin dipertahankan lagi. Dengan menguntungkan Taiwan dan merugikan RRC (waktu itu Cina diwakili oleh Taiwan), menguntungkan Israel dan merugikan negara-negara Arab, PBB nyata-nyata menguntungkan imperialisme dan merugikan kemerdekaan bangsa-bangsa.” Tapi itu kan dulu …
Entah karena aus termakan waktu atau mungkin ada faktor x lain, keberanian setinggi langit itu menurun sedikit demi sedikit tergerus waktu. Mungkin akan lenyap sama sekali sebelum salah satu pemimpin dan calon pemimpin kita tertular ‘ virus Soekarno ‘ yang pernah sangat menegakkan bulu kuduk pemimpin-pemimpin negara Barat. Jangan kita salah mempersepsikan keberanian dengan bondo ( modal ) nekat, haus darah dan kekerasan, karena waktu berjalan ke depan, wajah dunia berubah dan kalau untuk sekedar main tembak-tembakan bisa kita main airsoft gun atau Point Blank.
Dalam bidang pelestarian lingkungan hidup keberanian adalah menindak tegas industri milik pengusaha lokal maupun  asing yang terbukti mencemari lingkungan dan melanggar AMDAL. Dalam bidang industri, keberanian adalah membela nasib kaum pekerja di industri milik investor asing, diantaranya adalah dengan memastikan apakah mereka menerima upah sesuai UU atau malah kurang. Dalam bidang hukum, keberanian adalah menghukum seberat-beratnya para koruptor sebelum tiang devisa, APBN, APBD dan sejenisnya rontok dimakan rayap.
Maka, bukanlah semata-mata kesalahan negara tetangga melecehkan eksistensi kita. Mungkin dalam benak mereka berpikir, Indonesia nyaris abai terhadap nasib pekerja migran, apalagi kepada hal-hal besar lainnya seperti batas wilayah, sumber daya alam, penegakan hukum dll. Jadi tidak masalah semisal mereka hendak mencuri-curi ikan di laut kita sedikit-sedikit, atau bermain tangan sedikit kasar kepada pekerja rumah tangga yang berasal dari Indonesia, atau menjiplak sedikit dari karya-karya peninggalan leluhur kita yang sudah terlupakan. Ingat, maling amatiran tidak memulai aksi perdana mereka di tempat-tempat berkeamanan maksimum seperti bank maupun toko perhiasan, melainkan barang-barang dan tempat sepele yang nyaris luput dari perhatian misalnya jemuran, sandal dan kotak amal di tempat ibadah.  Mencuri memang haram hukumnya. Tapi  lebih celaka lagi tuan rumah yang sering tidak ingat dan waspada.

Tidak Hilang, Tetapi Belum Bertemu
            Televisi, radio dan internet sering dipersalahkan oleh kaum pendidik dan orang tua atas perilaku menyimpang anak-anak dan remaja. Mereka bilang betapa liarnya anak-anak zaman sekarang dibandingkan zaman mereka dulu. Dan betapa sudah bergesernya nilai-nilai kesopanan dan tata krama dari perilaku mereka. Sangat tidak mencerminkan sosok manusia Indonesia yang berbudaya, padahal mereka adalah generasi penerus bangsa. ( Nggak gitu-gitu amat kali, Pak, Bu. Coba bayangkan kalau Mark Zuckerberg, perancang Facebook itu ternyata lahir 10-20 tahun lebih awal, yaitu di masa Anda-anda jadi ABG. Apa iya masih terkendalikah kelakuan Anda ? ).
            Pertanyaannya sekarang orang Indonesia yang benar tindak tanduknya harus bagaimana ? Budaya Indonesia itu yang seperti apa sih ? Lalu, mengapa bahasa ibu kita berbeda ? Leluhur orang Indonesia datang dari mana ? Apa ajaran peninggalan leluhur kita ? Kira-kira bagaimana wujud kepulauan ini pada zaman dahulu kala, zaman sebelum berdirinya kerajaan pertama, Kutai dan Tarumanegara ? Apa benar penghuninya adalah meganthropus paleojavanicus, pithecantropus erectus, homo soloensis dan homo wajakensis ? Kalau memang ya jawabannya, pantaslah susah diatur orang-orang Indonesia ini. Lha wong keturunan munyuk …
            See, betapa tipisnya dinding pembatas antara manusia, yang belum berhasil mengenali dan menemui jati dirinya, dengan binatang. Anda boleh berlega hati karena volume otak bintang lebih kecil daripada manusia, sehingga mereka tidak punya alternatif teknis untuk bertindak selain daripada dorongan nalurinya. Sedangkan Anda manusia punya dua pilihan, yang mana satu sama lain bertentangan (  ya atau tidak, jujur atau bohong, dst. ) dan masing-masing meminta konsekuensi yang berbeda pula.  Orang jujur memang tidak selalu mujur. Namun kedok si pembohong lama-lama menumpuk sehingga ia lama-lama lupa bagaimana wajah aslinya. Anda boleh mengatakan si tetangga itu Malingsia, namun toh mereka  ‘ jujur ‘ menuliskan sejarah kelam yang pernah terjadi disana, antara lain kerusuhan rasial 13 Mei 1969, berikut faktor pemicu, jumlah korban jiwa dan harta benda, dan pihak mana saja yang terlibat. Sedangkan hingga 10 tahun ini kita masih belum bisa mengakses secara terperinci topik Insiden Mei 1998 dari Wikipedia. Di situs ensiklopedia bebas itu tertulis ‘ Masalah sensitif tanpa referensi ‘ .
             Mengapa harus kita menyalahkan anak-anak remaja atas hilangnya identitas kebangsaan mereka, sedangkan kita kaum terdahulu belum juga bisa menemukan, bahkan mencari identitas kebangsaan itu yang seperti apa wujud dan baunya ?  Kita terlalu takut untuk berhenti berbohong, dan mengakui kalau kita sudah berbohong.    Topeng kewibawaan, norma-norma dan doktrin-doktrin tiada jemu-jemunya kita pasang sebagai perisai agar konsekuensi kejujuran tidak bisa melukai kita. Ok, dalih keamanan dan stabilitas nasional adalah argumen paling masuk akal untuk menjawab ketidakperluan pengungkapan kebohongan publik dan sejarah , dan dikhawatirkan memicu gonjang ganjing nasional suatu masa nanti. Jadi mau berbohong sampai mati, begitu ?
            Ajaran Islam mengatakan, di hari Idul Fitri manusia akan terlahir kembali, suci seperti bayi karena sudah di ‘putihkan’ dari dosa-dosa selama hidup di Bumi. Nah lalu siapa yang bisa mengatakan perbuatan A itu berpahala/ benar dan perbuatan B itu berdosa/ salah ? Kitab suci Al Qur’an tidak akan bisa mengatakan apa-apa kecuali kita yang bersuara membaca isinya, dan memahami maknamya. Dalam artian, pertama-tama adalah suara hati Andalah yang akan menuntun jiwa berketurunan kera itu untuk mengerti dan mengakui kebenaran dan kesalahan. Untuk melepas kedok dan kemudian membukakan mata untuk melihat cahaya. Untuk berjalan dalam terang dan meraih cita-cita. Untuk akhirnya menemui siapa Anda-anda sesungguhnya.
           
            Selamat Mencari !

PILIHAN

Thursday, August 12, 2010

PERTANYAAN-PERTANYAAN PASCA LIBERTY, EQUALITY,FRATERNI TY

Monday, August 2, 2010

14 Juli lalu genap 211 tahun sudah Revolusi Prancis diperingati sebagai tonggak yang menginspirasi perjuangan melawan imperialisme di benua Amerika, Afrika dan Asia. Pekik Liberty, Equality, Fratenity ( Kemerdekaan, Kesetaraan, Persaudaraan ) telah dua abad lebih menggema hingga ke pelosok muka bumi. Harapan untuk perubahan social, ekonomi, budaya dan segala aspek kehidupan tumbuh dewasa di belakangnya. Bersamaan dengan itu, adalah teguran dan kritikan penuh kasih sayang dari mereka yang masih setia kepada para penguasa dunia yang sedang terlena dalam pelukan harta untuk mengingat kembali komitmen menegakkan kebenaran dan kesejahteraan seluruh warga.

Bukan berarti mereka masih menginginkan revolusi, kata terlarang yang membikin semua diktator lalim merinding, berdarah-darah membasahi ibu pertiwi masing-masing. Namun kelaparan akibat menurunnya daya beli masyarakat, faktor pemicu gegap gempita Prancis ratusan tahun lampau, masih dijumpai beberapa tempat. Pula, masih ada bom-bom meledak atas nama agama, peluru berdesingan mencacatkan anak-anak tanpa dosa dan agresi militer untuk menyelubungi persaingan tidak sehat memperebutkan sumber daya alam milik tetangga. Sementara para pengusaha berpikir keras bagaimana meraup untung banyak dengan sedikit pengeluaran, para pekerja yang lelah memeras keringat bergantian menuntut perbaikan upah. Apakah memang sudah gawan bayi ataukah takdir, bahwa perjuangan menegakkan kebenaran tiada akan pernah berakhir ?

Kemerdekaan
Kemerdekaan sebenarnya merupakan istilah yang di ‘hiperbola’kan dari kebebasan. Anak buyutnya kebebasan, kurang lebih. Sedangkan kebebasan sendiri mengandung arti semacam perasaan lega, lepas, karena hilangnya tekanan, belenggu, ancaman dan terror. Semacam perasaan ingin terbang melayang di hampa udara. Seupama layang-layang putus, berputar-putar kemana tiupan angin membawa. Ibarat seekor kuda, berlari kemana kakinya ingin pergi. Layaknya ABG, berbuat dan berucap sesuai kehendak hati.

Semua manusia pada awalnya lahir bersama perasaan itu. Manusia lahir tanpa membawa apa-apa, termasuk pakaian yang melekat di badan. Tidak juga beban dosa maupun masalah para orang tua. Suci, murni, polos, kadang sedikit naïf. Keluarga, masyarakat dan Negara bertanggung jawab memberikan pengetahuan kepada si manusia baru bagaimana menjaga, mengarahkan dan menggunakan kebebasannya. Namun di tengah jalan dan di suatu saat dan tempat, mereka pernah mengalami saat-saat dimana kebebasannya terampas dan harga diri sebagai manusia pun terhempas. Dan hanya sedikit sekali diantara mereka yang beruntung menyadari bahwa keterampasan serta keterhempasan itu penyebabnya 90% berasal dari kegagalan di dalam dirinya untuk mengambil alih kendali dan mempertahankan kebebasan.

Mengapa demikian ?

Manusia memang keluar dari rahim bunda bersama kebebasan, hak asasi, absolute freedom, dsb,dst… dan sendirian ( kecuali anak kembar 2, 3, 4, dll. ). Semasa kanak-kanak adalah bapak, ibu, saudara-saudara, kakek, nenek, paman dan bibi menjadi teman yang mengasuh, memberi makan, nasihat, menyekolahkan dan memberi uang jajan. Lalu tibalah masa ketika ia harus melangkahkan kaki ke luar rumah dan mendapatkan kebebasannya, adalah ia dan hanya dia seorang yang berhak dan bertanggung jawab memutuskan segalanya. Kadang-kadang rasa ingin tahu yang terlampau liar memaksanya menyerah mencoba melakukan hal-hal yang dilarang oleh hukum, ajaran agama maupun norma-norma sosial. Saat konsekuensi menagih pembayaran berupa kebebasan yang dimilikinya, barulah ia menyesal mengapa terlambat memutar haluan.

Warga pribumi Indonesia sudah sejak ribuan tahun lampau menjadi pusat pelampiasan iri hati warga belahan dunia lain. Betapa tidak, warga pribumi hidup berkecukupan sandang, pangan, papan, gemah ripah loh jinawi. Malangnya, warga pribumi tidak tahu menahu tentang potensi yang terpendam di dalam tanah dan laut. Sedangkan para raja penguasa tanah pribumi pada saat itu terlampau sibuk berperang memperluas wilayah kekuasaan, bersengketa dengan kerabat-kerabat yang tergiur empuknya kursi istana dan mencari selir-selir baru. Para pedagang, tamu kerajaan yang berkulit putih dan bermata biru melihatnya sebagai kelemahan. Dan karena mereka pada saat itu juga sangat membutuhkan hasil bumi dan sumber daya alam lain yang murah, cepat dan tepat untuk mencukupi kebutuhan dalam negerinya sendiri, maka terjadilah apa yang kita sebut sekarang sebagai penjajahan alias imperialisme.

350 tahun ? Yah, bukannya saya mau menjelek-jelekkan nenek moyang kita yang sudah beristirahat dengan tenang dan merdeka di ‘ dunia ‘nya sendiri, namun, seperti yang sudah saya kemukakan di tulisan terdahulu, keadaan alam yang kaya raya kadang terlampau memanjakan sehingga manusia cenderung lekas berpuas diri dan malas mencari pengetahuan lebih di luar lingkungan yang serba enak. Para pendahulu kita terlambat menyadari bahwa mereka tidak hidup sendirian di luasnya Nusantara. Mereka berjuang sendiri-sendiri bersama golongannya sendiri serta belum memiliki pengetahuan tentang teknologi persenjataan terbaru. Mengira bahwa keris sudah cukup sakti mandraguna, satu demi satu pahlawan lokal menemui ajal di penghujung bedil.

Kesetaraan

Semua manusia, kecuali mereka yang kebetulan mendapat anugerah terselubung berupa cacat fisik, dilahirkan dengan satu kepala, dua tangan dan kaki, dua mata, satu hidung dan satu mulut. Sepintas terlihat sama. Selain nama, apa yang membuat mereka berbeda dan dibedakan antara satu dengan lainnya ? Warna dan jenis rambut ( hitam lurus atau kribo coklat ) ? Warna mata ( biru, hijau, coklat, hitam ) ? Warna kulit ( hitam, coklat, putih, kuning, merah )? Golongan ( atas, menengah, bawah ) ? Asal usul/ leluhur ( bangsawan, rakyat jelata, blasteran antara bangsawan dan rakyat jelata ) ? Pekerjaan ( direktur, manajer, karyawan ) ? Jenis kelamin ( laki-laki, perempuan, setengah laki-laki dan atau setengah perempuan ) ? Umur ( anak-anak, dewasa, lansia ) ? Jumlah materi ( kaya, miskin, setengah miskin ) ? Kepercayaan ( Anda sebut sendiri lah please ) ?

Sejumlah perbedaan tersebut ternyata melatar belakangi sebagian kecil orang untuk merasa lebih, yakin bahwa dirinya/ mereka adalah numero uno, the chosen one, satria pinilih. Dan oleh karenanya merasa berhak untuk memberikan perlakuan tak sederajat kepada golongan lain yang tidak seperti dirinya. Anda bisa mengatakan penindasan sudah jadi sejarah yang penuh sarang laba-laba. Namun di beberapa tempat masih dapat dengan mudah kita temui sekelompok manusia yang masih harus memeras peluh untuk mendapat pengakuan atas keberadaannya dan kesamaan hak untuk mempertahankan hidup.

Apa sih kira-kira yang terlintas di benak kita ketika melihat, menemui atau mengenal seseorang yang berbeda fisik dan non fisik dengan kita ? Ah, jangan-jangan dia maling. Jangan-jangan dia maniak. Jangan-jangan dia pengintip. Jangan-jangan… jangan-jangan …Takut kah ? Itu jelas sekali terang benderang. Entah siapa yang memulai, namun paranoia terhadap sesuatu yang asing, lain, aneh dan tidak mainstream sudah ditanamkan sejak masa ingusan kakek nenek kita. Tujuan awalnya sih sebenarnya untuk menumbuhkan pertahanan swadaya seorang anak kala ia harus menempuh perjalanan seorang diri. Dilemanya, sangat jarang ditemui orang-orang yang mampu menganalisa masalah dan mengambil keputusan secepat kilat namun cermat dalam situasi genting. Yang diingat dan terngiang senantiasa hanyalah doktrin-doktrin sempit semisal : ‘ hitam jahat ‘, ‘ merah liar ‘, ‘ putih malaikat ‘. Sehingga keminderan individu berbenturan dengan ketidakpercayaan berlebih terhadap liyan sukses menumbuhkembangkan ledakan rasisme, fasisme, terorisme, seniorisme serta bullyingisme.

Persaudaraan

Beda Bapak beda Ibu tetapi bersaudara ? Kok bisa ? Tentu bisa. Buktinya frase’ persaudaraan ‘, ‘ ikatan ‘, ‘ persatuan ‘ dan ‘ perkumpulan ‘ dan sejenisnya sebagai bagian nama organisasi, yayasan, lembaga, perkumpulan, perserikatan yang dibentuk berdasarkan kesamaan minat/ hobi, tujuan dan asal muasal. Diantaranya meliputi kesamaan perguruan tinggi, ketrampilan kerja, etika, etnisitas, agama, politik, kontribusi amal dan sosial, nilai-nilai tradisional, asetisme, pelayanan publik, seni budaya, garis keturunan/ marga dan bahkan criminal. Artinya, sekumpulan orang tersebut tidak mendadak sontak bersedia menyatakan diri sebagai saudara satu sama lain tanpa alasan, yaitu kesamaan kepentingan dan nasib.

Di masa perjuangan kemerdekaan RI, beberapa kelompok generasi muda yaitu Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon berhasil menyatukan visi dan mendeklarasikan Sumpah Pemuda, dan dilestarikan hingga sekarang sebagai simbol pernyataan persatuan seluruh rakyat Indonesia pada saat itu. 5 tahun kemudian setelah RI memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, persatuan itu sedikit demi sedikit terkikis akibat meletusnya pemberontakan bersenjata di beberapa daerah. Sebut saja pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) ( 23 Januari 1950, Bandung ), pemberontakan Andi Azis ( 5 April 1950, Makassar ), pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) ( 25 April 1950, Maluku ), pemberontakan PRRI/Permesta ( 15 Februari 1958, Sumatra Barat dan Sulawesi Utara ), pemberontakan DI/ TII ( 7 Agustus 1949-3 Februari 1965, tersebar di Jawa Barat, Aceh, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan ).

Sesudah menelaah beberapa sumber saya simpulkan ada satu factor tunggal yang memicu radikalisme daerah tersebut. Yaitu, tuntutan agar otonomi daerah segera direalisasikan pemerintah saat itu. Agar hasil daerah dikembalikan lagi ke daerah, karena sebelumnya terjadinya kesepakatan hasil bumi daerah dikuasai secara penuh oleh pemerintah pusat.
Perjuangan itu dilakukan sebagai bentuk pengambilan kembali hak-hak daerah. Dikatakan oleh Bakhtiar Ngunguah ( salah satu mantan anggota PRRI Sumatra Barat yang masih hidup ) bahwa hasil daerah yang diharapkan kembali lagi ke daerah antara lain beberapa hasil bumi seperti terung, sayur mayur, tambang emas, tambang tembaga dan hasil lainnya. "Jika masalah tersebut diselesaikan dan hasil tersebut dikembalikan, kami akan akan kembali ke pangkuan ibu pertiwi yang artinya pusat tidak menang dan daerah tidak kalah, “ ( situs Padang Today, 15 Agustus 2009 ).

Manakala cita-cita sudah tergenggam erat di tangan, kita kadang terlena dan melupakan sekeliling. Dunia milik kita, yang lain penumpang gelap, begitulah kira-kira. Status bangsa terjajah ternyata ampuh menumbuhkan keinginan untuk bersatu dengan sesama warga, dengan tak memandang suku, ras, golongan maupun agama. Jadi, apakah wajib menyandang status bangsa budak belian selamanya agar tak ada perpecahan diantara kita ? Sebuah surat kabar ibu kota ternama baru-baru ini menurunkan sebuah tulisan mengenai kebiasaan-kebiasaan buruk manusia. Berada di urutan pertama adalah gossip/ menggosip. Ironisnya, kebiasaan membicarakan keburukan orang lain itu ternyata terbukti sah dan meyakinkan mampu mendekatkan hubungan dua pihak yang awalnya tak saling kenal. Persaudaraan, apakah harus diciptakan dengan mengada-adakan kambing hitam ?

Pernahkah Anda memikirkan kemungkinan Sang Maha Hidup sengaja menciptakan manusia dengan ketidaksempurnaannya agar mereka belajar, berpikir dan berbuat untuk menjadi sempurna ?

Kebenaran mutlak ? Alam bakalah tempatnya. Namun, selagi masih bernafas mengapa tidak kita berusaha semampunya untuk menjadi benar ?

AN NATURAL SELECTION

Monday, June 28, 2010