BERKAH MALAPETAKA
Hujan air mata nyaris mengalahkan hujan batu kerikil sisa letusan Gunung Merapi, di kala perkembangan terakhir tsunami Kepulauan Mentawai tersiar luas di media. Ada yang kehilangan tempat tinggal dan barang-barang berharga hasil kerja keras selama bertahun-tahun. Ada yang tercenung sendiri meratapi kehilangan suami, istri, anak-anak mereka tercinta. Ada seorang bayi yang terpaksa menjadi yatim piatu karena orang tuanya terseret gelombang. Ada ratusan mereka yang peduli dan prihatin ramai-ramai membuka pos bantuan dan menggalang dana. Ada jutaan pemirsa televisi yang masih peduli turut mengelus dada. Kaum pejabat terbelah dua, sebagian melenggang kangkung ke Tuki dan Jerman seperti hendak lari dari keruwetan negeri, sedangkan lainnya menyalahkan sistem peringatan dini tsunami sudah gagal total, entah karena perasaan bersalah ikutan me’makan’ 5 miliar rupiah yang sudah dikeluarkan untuk mengoperasikan perangkat tersebut, ataukah karena arogansinya telah luluh melihat duka para korban. Sementara sebagian yang lainnya terdiam kaku dan bertanya-tanya, apakah Sang Maha Hidup sudah begitu membenci kita, dan menurunkan bencana yang tiada habisnya.
Seperti kelahiran bayi, bencana dan kematian memang sudah sering kita alami sepanjang hidup kita. Coba saja Anda hitung sudah berapa kali bencana alam terjadi dimulai sejak tahun pertama kali Anda lahir sampai saat ini. Ratusan, bahkan ribuan ( barang )kali. Artinya, ini adalah fenomena alias kejadian alam biasa. Mungkin lantaran saking terlalu biasanya bagi saya sampai-sampai khilaf bicara dan mengatakan solusi terbaik, tercepat dan termudah untuk mengatasi bencana adalah pindah dari motherland sejauh mungkin. Saya sadar itu mungkin menyakitkan bagi mereka para korban maupun yang sedang terancam bencana berikut. Tapi, empati yang muncul sudah terlampau dalam dan menyakitkan rasanya diam saja tanpa bisa berbuat banyak menolong mereka yang merana. Karena yang saya bisa lakukan adalah dan hanyalah omdo ( omong doang ), nah maka itulah wujud kepedulian saya.
Nerakanya Surga
Mudah-mudahan Anda belum bosan kalau kembali saya tekankan pada coretan kali ini, bahwa Indonesia kita ini adalah sungguh sebuah syurga. Pemandangannya elok, cuacanya pun bersahabat. Belum lagi tanah suburnya ialah berkah tak ternilai. Kita taruh biji salak, tumbuh pohon salak. Kita semai benih padi, jadilah nasi. Kita buang benih kerusuhan, yang muncul kedamaian. Alam yang memanjakan dan terlalu mencintai kita, kadang membuat manusia terlena dan lupa darimana semua kenikmatan dunia itu berasal. Sama saja dengan seorang anak ABG ndeleleng yang keinginannya selalu dituruti orang tua. Enteng tangannya menunjuk ingin punya ini itu, tanpa mau tahu lelah ayah ibu membanting tulang di belakangnya.
Kita adalah generasi yang beruntung, karena tidak sempat mengalami dan menyaksikan kesulitan-kesulitan para penghuni perintis pertama Nusantara ini. Kita tidak pernah tahu bagaimana repotnya hidup di rimba belantara tanpa listrik, jejaring twitter, fesbuk dan ponsel, makan sayuran hutan tanpa MSG, tidur-tidur ayam mewaspadai bermacam-macam bencana alam, berkelahi melawan binatang buas dan penjajah, maupun berjalan kaki berpuluh kilometer untukl bersilaturahmi dengan sanak saudara. Sejuta kemudahan dan keberuntungan itu ampuh membikin kita terlena berleha-leha.
Jadi, menggelikan juga melihat kejanggalan alamiah sebahagian manusia yang nglali itu tadi tiba-tiba berlomba bersujud di hadapan Tuhannya masing-masing, mengucapkan sebaris permohonan ampun dan selamat dan ramai-ramai menyebarluaskan himbauan agar semua orang juga bertaubat. Dan itulah yang terjadi setiap dan nyaris selalu sesudah bencana alam skala nasional dan mengundang iba hati masyarakat internasional menghantam Nusantara untuk kesekian kalinya. Bukankah Alam, sebagaimana juga Gusti, tidak pernah sare ( bobo’ ) ? Alam mengitari kita tiada lelah tumbuh, bersinergi dan berproses mencari bentuk-bentuknya yang paling ideal, agar terus mampu berfungsi sebagai pelengkap kebutuhan hidup makhluk hidup seisinya. Dan karena pergerakan sesuatu atau sesosok manusia atau seonggok gunung berapi adalah tanda kehidupan, maka kebakaran, banjir, tanah longsor, gempa, tsunami dan wedhus gembel adalah memang bencana, hanya bagi mereka yang kurang ingat dan waspada. Sejatinya kaum yang masih ber-Tuhan musti menerima segala kemungkinan terburuk, karena bumi seperti roda, manusia berbangga jumawa menjadi si nomor satu tetapi mekanisme alam tidak pernah memberitahu tanggal, bulan, jam dan pukul berapa kita akan terlempar ke dalam jurang derita.
Ready, Get Set, Go … !
Kecopetan uang gaji jatah hidup satu bulan, pengambilan paksa sepeda motor pretelan kesayangan karena nekat melaju di jalan raya tengah kota tanpa SIM dan STNK, rumah tempat berteduh hangus terbakar berikut seluruh perabotan yang belum lunas cicilannya, tertangkap basah membawa barang narkoba, ditinggal pergi orang tua ke alam baka, diputus pacar setelah dicurinya hati berikut keperjakaan/ keperawanan anda, serta berderet-deret kesialan lain yang menampakkan gejala entah kapan akan berakhir. Kenyamanan dan kemapanan hidup kadang membuat kita lengah akan eksistensi bencana-bencana kecil yang selalu kerja lembur, mengintai dan siap menerkam sewaktu-waktu.
Maka janganlah panik dan gagap menghadapi serbuan wabah penyakit trendy bernama depresi, tidak menular namun lebih ganas daripada AIDS dan flu burung. Berlandaskan asas menyelesaikan masalah tanpa masalah lebih cepat lebih baik, maka mereka yang kelelahan memforsir otaknya untuk berpikir melampaui apa yang bisa dikerjakan oleh raganya memilih terjun bebas dari tower berlantai 111, gantung diri atau minum racun. Sementara sebagian streswan dan streswati yang masih sayang nyawa namun ciut nyali menantang depresi melarikan diri kepada pelukan hura-hura narkoba, miras, meja judi dan kekasih nomer dua atau sebelas…
Ibarat anjing menggonggong, kafilah berkepala dingin pun berlalu dan bukannya melempar batu untuk mengusir si pengganggu. Maka, tsunami maupun Merapi aftermath adalah berdiri selekas-lekasnya, menyembuhkan luka hingga tak terasa pedihnya lalu mencuri start dan berlari kembali membangun hari-hari. Dalam teorinya memang mudah, namun kita tidak punya pilihan lain. Marah, menjerit, memaki dan menangis hanya orang sakit jiwa yang berkuasa melarang. Manakala cadangan energi akhirnya terbuang percuma untuk meratapi nasib dan menunggu mukjizat untuk mengentaskan duka lara, ah betapa meruginya !
Posted by
mahasasi
at
4:49 AM
1 comments
SAKITNYA SAKIT oleh : Dyah Mahasasi Swastantika
Thursday, October 14, 2010
Bulan suci Ramadhan baru saja berlalu. Setelah para kerabat pulang ke rumah masing-masing, kue Lebaran dan kantong kembali menipis kita kembali kepada kehidupan seperti biasa. Sebagian kecil yang sukses mendapatkan berkah Lailatul Qadr mungkin akan merubah pola pikir dan tindak tanduk tanpa disuruh-suruh, lebih positif dan progresif daripada sebelumnya. Sedangkan sebagian lainnya yang belum mendapat berkah harus sabar menunggu hingga Ramadhan berikutnya. Anyway, yang jelas, semua Muslim kini bebas untuk makan dan minum di siang hari. Bebas dari teriakan protes keroncongan di perut selama sebulan kemarin. Bebas dari rasa sakit yang dengan sengaja disongsong guna meraih kepuasan spiritual dalam rangka mengenal sifat-sifat Dia dan menjadi kekasihNya.
Sejak kanak-kanak kita sudah diajarkan bahwa sakit dan rasa sakit itu sama sekali tidak menyenangkan. Penderitaan datang daripadanya, dan kita harus menjauhinya sedapat mungkin. Apabila suatu saat terjatuh dan menangis kesakitan maka ayah dan ibu tercinta akan cepat-cepat datang menolong. Bermaksud menenangkan tangisan kita beliau memukul lantai atau batu kerikil yang menyebabkan kita terpelanting. Maka semenjak detik itu juga terbentuk pemahaman dalam benak kita mengenai rasa sakit dan penderitaan, semuanya disebabkan oleh hal-hal yang berada di luar diri kita. Artinya, kalau kita tersandung batu manakala mata terlalu serius memperhatikan sosok bahenol di seberang jalan, maka si batulah yang salah, ngapain juga dia harus menghalangi jalan kita.
Bukan maksud saya menyalahkan sikap para orang tua kita. Namun, zaman beliau-beliau lahir dan dibesarkan tidak serumit era cyber goro-goro saat ini. Jadi, kita harus menerima dengan dada lapang apabila ‘menyalahkan si batu’ tadi ternyata menyesatkan perjalanan kita di masa dewasa. Entah sudah berpuluh ribu kali kita harus berjalan, tersandung, terjatuh, terperosok bahkan tenggelam karena silau akan gemerlap surga dunia. Memang akhirnya mau tak mau kita akan bangkit dan berjalan kembali. Namun, sosok tersebut bukanlah seorang suciwan atau suciwati yang akan dengan mudah memaafkan diri sendiri apalagi orang-orang lain. Pada suatu masa ia berjalan ke depan tanpa menoleh ke kanan kiri belakang, namun rasa pahit yang dipelihara membuat ia lagi-lagi tersesat.
Si Tamu Tidak Diundang
Seorang teman pernah bercerita tentang betapa sakti mandragunanya seorang tamu tak diundang yang mampir ke rumahnya beberapa waktu yang lalu. Pagar rumahnya tinggi meruncing, gembok rangkap 3, alarm anti maling selalu on dan cctv standby di sudut-sudut rumah, toh teman ybs akhirnya menangisi kepergian mobil sedan barunya yang raib digondol si ‘ tamu ‘. ‘ Mungkin si penggondol itu punya aji sirep kali ya ? ‘ keluh teman saya. ‘ Oo ya bisa juga, ‘ timpal saya. ‘ Mungkin dia juga punya ilmu pelet, ilmu meringankan tubuh, ilmu menghilang dan kebal peluru dan kebal polisi, otot kawat, tulang jemuran …’
Pencuri, apapun jenis kelaminnya, tak peduli dia bercadar ninja atau berkerah putih, entah mencuri hati Anda ataupun uang negara, memang begundal yang layak untuk dimaki-maki. Si tamu tak diundang itu bukan saja mengambil barang kesayangan yang dibeli oleh butir keringat kerja keras. Namun juga memberi kita sebuah hadiah istimewa bernama marah, sedih dan sumpah serapah kebun binatang. Harga barang yang hilang mungkin sangat mahal, namun emosi lebih mahal lagi karena tidak ada obatnya di apotik terdekat.
Ia membikin otak panas seperti mau meledak. Seperti sebuah luka yang belum lama mengering, tiba-tiba terbuka karena siraman air garam, diiris-iris sembilu untuk kemudian digoreng di wajan nafsu duniawi. Kemudian ia menjelma merasuk ke dalam kerusuhan, tawuran, kekerasan, permusuhan, syak wasangka berskala internasional, nasional, daerah, RT RW maupun rumah tangga. Tumpahan lahar gunung api memang sangat mengerikan, apalagi yang sudah tersimpan begitu lama. Karena ia tidak ragu lagi untuk menerjang membinasakan apa dan siapa saja yang berdiri di depannya. Saat si bijak berusaha membunuh perasaan ini, yang didapat hanyalah menggiring angin. Ibarat suporter bonex, semakin diusir, semakin liar pula serangan baliknya.
Emosi tidak bisa dienyahkan, kecuali kita menghembuskan nafas terakhir. Hanyalah ingatan dan kewaspadaan kelas tinggi manusialah yang bisa menaklukkannya. Seandainya kita belum cukup punya kemampuan untuk itu, mari membuat sebuah keranjang sampah. Letakkanlah sebentar logika dan berpalinglah pada aktivitas yang menguras isi perasaan Anda. Misalnya, memutar piringan hitam lagu-lagu rohani, menggambar pemandangan, memberi makan ikan-ikan dan burung peliharaan, memainkan senar ukulele atau mengencani seniman/seniwati ganteng/ ayu, kaya dan terkenal.
Masokis rasa Kismis ?
Mendengar kata yang satu ini mungkin lamunan Anda akan melayang-layang kepada sesuatu kejanggalan seseorang ketika berkencan dengan kekasihnya, cokot mencokot, cambuk kuda lumping, rantai kapal, dll ( Kalau sudah cukup umur Anda bisa menyaksikan contoh-contohnya di website Hentai ). Konon kabarnya, sindrom ini menjangkiti mereka-mereka yang mengalami depresi akibat pengalaman kontak fisik yang mengerikan di usia dini. Mereka, kaum masokis ini, diberi berkah berupa semacam perasaan bahagia melimpah ruah di kala berhasil menyakiti dirinya sendiri baik physically maupuan sexually. Namun pada perkembangannya, masokis bukan hanya menjadi momok peraduan hasrat Anda. Ia, tanpa kita sadari, ternyata sudah melebarkan sayapnya ke dalam segala macam aspek kehidupan sosial kemasyarakatan manusia.
Apabila tujuan hidup manusia di dunia ini adalah untuk mencari ketentraman ( yang entah betah bersembunyi di relung hati sebelah mana ), dan bukan hanya sekedar kesejahteraan materi belaka, maka sudah seharusnyalah kita mencari dimana ia berada. Namun apa daya, semakin dikejar semakin menjauhlah dia. Jangankan untuk mencari, ada juga sebagian kaum yang kurang beruntung dalam mendefinisikan makna di balik ketentraman. Telah dicari ke ujung dunia, bahkan di sela-sela tumpukan jerami, tiada jua bersua. Manakala kita sudah lelah dan kehabisan tenaga untuk meneriaki dan menyalahkan dunia atas kegagalan mendapatkan ketentraman sejati, marilah berhenti berlari dan mengambil nafas panjang sejenak.
Tanpa kita sadari, entah sudah puluhan, ratusan, jutaan kali kita menyakiti hati sendiri dalam satu hari, satu tahun, dua dasawarsa maupun seumur hidup kita. Kita tahu bahwa berkata bohong itu salah, namun di masa sekolah dasar entah sudah berapa kali kita membohongi orang tua guna mencari alasan pulang terlambat. Kita tahu menyiksa binatang itu dilarang agama, namun kita berseru kegirangan saat jangkrik aduan kita menang. Kita tahu mengutil itu dipotong tangan hukumannya, namun sembari berlagak klepto kita sering merasa tak berdosa saat mengutil di swalayan terdekat. Kita tahu selingkuh itu sadis, namun lagu-lagu cinta bertemakan salah satu penyakit cinta kronis manusia sejak zaman sepur lempung itu nyaris selalu disukai anak-anak muda. Kita tahu merokok itu tidak baik untuk kesehatan, tapi kalau pabrik rokok ditutup semua lalu kemanakah para pekerjanya dan petani tembakau mencari makan ? Kita tahu korupsi itu merugikan banyak sekali orang, namun toh masih ada juga kaum sesat yang membanggakan hasil kekayaan yang diperoleh berkat tipu muslihat. Kita tahu pembantaian massal itu bukan saja keji - hati pelakunya mungkin terbuat dari batu kali, namun tahun demi tahun berjalan tanpa secuil penjelasan pun tentang tragedi A, B, G, F, S dan Z.
Anda boleh-boleh saja menghakimi gerombolan pecinta tatoisme dan piercingisme sebagai masokis maniak dan kurang normal. Tapi toh hanya 0,99 % dari mereka tidak siap dengan resiko sakit dan tjap buruk dari para tetangga. Hanya mereka yang kurang makan bangku sekolahan tidak dapat menjelaskan arti di balik sebuah tato di hidung dan tindik di tenggorokan. Mengapa harus oknum-oknum misterius menghabisi nyawa mereka satu per satu di era 1980-an ? Toh mereka cuma mengekspresikan rasa sakitnya dan berjuang sekuat tenaga untuk menempatkannya setara selilit kismis di sela-sela gigi, tak pernah berniat menyakiti orang lain kecuali tubuh milik pribadi.
Idealnya sih, menjalani dan menghabiskan waktu menghirup udara di Bumi ini dengan normal-normal saja, tanpa perlu harakiri menjemput rasa sakit di dalam hati maupun di sekujur badan. Akan tetapi, hidup ini pun menyuguhkan sekian banyak pilihan, pula sekian ribu resiko yang harus ditanggung penumpang sendiri-sendiri. Selanjutnya terserah Anda …
Posted by
mahasasi
at
4:43 AM
0
comments
PERTEMUAN
Tuesday, September 7, 2010
Saya pegang ajaran Multatuli bahwa kewajiban manusia adalah menjadi manusia
( Pramudya Ananta Toer )
Saat manusia mini berbentuk jabang bayi dipaksa keluar dari rahim hangat ibundanya, ia menangis tersedu-sedu. Selama ini kita mengira dia menangis karena kedinginan, atau terkejut matanya mendadak silau oleh cahaya. Kepercayaan tradisional Jawa mengatakan, bayi yang baru lahir menangis karena harus berpisah dengan ‘ saudara-saudaranya ‘, kakang ( kakak ) kawah ( ketuban ), adhi ( adik ) ari-ari ( plasenta ) dan sedulur papat ( saudara empat lainnya, yaitu darah dan tali pusar ), yang selama 9 bulan sudah setia menemaninya. Dan karenanya jabang bayi sadar musti menjalani hidup sendiri saja.
Seiring dengan berjalannya waktu, manusia kecil itu pun mengetahui, ternyata ia tidak benar-benar sendiri di dunia ini. Ada keluarga, teman-teman, saudara-saudara, kolega, tetangga-tetangga, dan masih banyak lagi, tergantung kepada seberapa jauh dia menceburkan diri ke dalam jejaring pergaulan sosial. Di tengah-tengah mereka ia mendapatkan kasih sayang, perhatian, nasihat dan saran-saran, serta uang jajan. Semua tercipta dan tersedia begitu sempurna, untuk dirinya seorang. Lama-lama tubuh yang dulu mungil kini tinggi menjulang. Dan tiba saatnya ia melangkahkan kaki keluar rumah.
Ketika anak-anak tumbuh dewasa dan mengenal dunia luar, maka sadarlah ia hanya sebiji kuku hitam. Alam raya ternyata menawarkan kebebasan untuk memilih antara jalan gelap dan terang. Namun, karena ia anak kemarin sore yang imut dan lugu, maka sebersit keraguan merongrong dirinya. Jalan mana yang musti dipilih ? Jalan terang yang sesuai dengan norma-norma dan nasihat orang tua, ataukah jalan gelap yang ( mungkin ) menyimpan misteri dan maksiat ?
Di sekelilingnya ia dikepung teman sebaya yang sama-sama kebingungan, dan juga ketakutan. Takut tidak memperoleh pengakuan atas keberadaan mereka sebagai manusia setengah anak-anak, ataukah manusia setengah dewasa, atau malah setengah manusia sama sekali. Sekelompok ABG gagal mengatasi ketakutannya sendiri dan imbas langsungnya adalah kehilangan keyakinan atas kemampuannya untuk meraih pengakuan dari teman sekelas, teman satu geng dan pacar teman. Mereka yang meratapi kegagalannya menanam, memupuk dan bahkan berburu untuk menemukan bibit pohon jati diri untuk tumbuh dewasa akhirnya memilih jalan pintas destruktif berupa narkobis, balapan liar, tawuran massal, penggerebekan ini itu, kalau tidak membunuhi sesama makhluk hidup yang tak berbicara dengan bahasa manusia, misalnya hutan hujan atau lumba-lumba Kalderon ( seperti yang dilakukan ABG laki-laki setiap tahun di Denmark dalam rangka mendemonstrasikan kejantanan mereka ).
Us ( are not ) Vs Them
Mantan presiden RI pertama, Soekarno, tercatat dalam sejarah dunia sebagai pemimpin pemberani meskipun ngluruk tanpo bolo ( menyerang sendirian ), saat beliau menyatakan Indonesia keluar dari keanggotaan PBB pada 7 Januari 1965. Pemerintah Soekarno menganggap PBB telah menjadi boneka Imperialisme dan neo-kolonialisme Amerika dan sekutunya. Malaysia diterima sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, yang mana adalah posisi incaran hampir setiap negara di dunia hingga saat ini. Bung Karno berasumsi bahwa Malaysia adalah negara boneka bikinan negara-negara Barat yang hendak memecah belah persatuan orang-orang Asia Tenggara, untuk kemudian menguasai tanah milik kaum bumiputra dan mengambil alih kekayaan alamnya. Bung Karno berkata, "PBB dalam susunannya yang sekarang tidak mungkin dipertahankan lagi. Dengan menguntungkan Taiwan dan merugikan RRC (waktu itu Cina diwakili oleh Taiwan ), menguntungkan Israel dan merugikan negara-negara Arab, PBB nyata-nyata menguntungkan imperialisme dan merugikan kemerdekaan bangsa-bangsa.” Tapi itu kan dulu …
Entah karena aus termakan waktu atau mungkin ada faktor x lain, keberanian setinggi langit itu menurun sedikit demi sedikit tergerus waktu. Mungkin akan lenyap sama sekali sebelum salah satu pemimpin dan calon pemimpin kita tertular ‘ virus Soekarno ‘ yang pernah sangat menegakkan bulu kuduk pemimpin-pemimpin negara Barat. Jangan kita salah mempersepsikan keberanian dengan bondo ( modal ) nekat, haus darah dan kekerasan, karena waktu berjalan ke depan, wajah dunia berubah dan kalau untuk sekedar main tembak-tembakan bisa kita main airsoft gun atau Point Blank.
Dalam bidang pelestarian lingkungan hidup keberanian adalah menindak tegas industri milik pengusaha lokal maupun asing yang terbukti mencemari lingkungan dan melanggar AMDAL. Dalam bidang industri, keberanian adalah membela nasib kaum pekerja di industri milik investor asing, diantaranya adalah dengan memastikan apakah mereka menerima upah sesuai UU atau malah kurang. Dalam bidang hukum, keberanian adalah menghukum seberat-beratnya para koruptor sebelum tiang devisa, APBN, APBD dan sejenisnya rontok dimakan rayap.
Maka, bukanlah semata-mata kesalahan negara tetangga melecehkan eksistensi kita. Mungkin dalam benak mereka berpikir, Indonesia nyaris abai terhadap nasib pekerja migran, apalagi kepada hal-hal besar lainnya seperti batas wilayah, sumber daya alam, penegakan hukum dll. Jadi tidak masalah semisal mereka hendak mencuri-curi ikan di laut kita sedikit-sedikit, atau bermain tangan sedikit kasar kepada pekerja rumah tangga yang berasal dari Indonesia , atau menjiplak sedikit dari karya-karya peninggalan leluhur kita yang sudah terlupakan. Ingat, maling amatiran tidak memulai aksi perdana mereka di tempat-tempat berkeamanan maksimum seperti bank maupun toko perhiasan, melainkan barang-barang dan tempat sepele yang nyaris luput dari perhatian misalnya jemuran, sandal dan kotak amal di tempat ibadah. Mencuri memang haram hukumnya. Tapi lebih celaka lagi tuan rumah yang sering tidak ingat dan waspada.
Tidak Hilang, Tetapi Belum Bertemu
Televisi, radio dan internet sering dipersalahkan oleh kaum pendidik dan orang tua atas perilaku menyimpang anak-anak dan remaja. Mereka bilang betapa liarnya anak-anak zaman sekarang dibandingkan zaman mereka dulu. Dan betapa sudah bergesernya nilai-nilai kesopanan dan tata krama dari perilaku mereka. Sangat tidak mencerminkan sosok manusia Indonesia yang berbudaya, padahal mereka adalah generasi penerus bangsa. ( Nggak gitu-gitu amat kali, Pak, Bu. Coba bayangkan kalau Mark Zuckerberg, perancang Facebook itu ternyata lahir 10-20 tahun lebih awal, yaitu di masa Anda-anda jadi ABG. Apa iya masih terkendalikah kelakuan Anda ? ).
Pertanyaannya sekarang orang Indonesia yang benar tindak tanduknya harus bagaimana ? Budaya Indonesia itu yang seperti apa sih ? Lalu, mengapa bahasa ibu kita berbeda ? Leluhur orang Indonesia datang dari mana ? Apa ajaran peninggalan leluhur kita ? Kira-kira bagaimana wujud kepulauan ini pada zaman dahulu kala, zaman sebelum berdirinya kerajaan pertama, Kutai dan Tarumanegara ? Apa benar penghuninya adalah meganthropus paleojavanicus, pithecantropus erectus, homo soloensis dan homo wajakensis ? Kalau memang ya jawabannya, pantaslah susah diatur orang-orang Indonesia ini. Lha wong keturunan munyuk …
See, betapa tipisnya dinding pembatas antara manusia, yang belum berhasil mengenali dan menemui jati dirinya, dengan binatang. Anda boleh berlega hati karena volume otak bintang lebih kecil daripada manusia, sehingga mereka tidak punya alternatif teknis untuk bertindak selain daripada dorongan nalurinya. Sedangkan Anda manusia punya dua pilihan, yang mana satu sama lain bertentangan ( ya atau tidak, jujur atau bohong, dst. ) dan masing-masing meminta konsekuensi yang berbeda pula. Orang jujur memang tidak selalu mujur. Namun kedok si pembohong lama-lama menumpuk sehingga ia lama-lama lupa bagaimana wajah aslinya. Anda boleh mengatakan si tetangga itu Malingsia, namun toh mereka ‘ jujur ‘ menuliskan sejarah kelam yang pernah terjadi disana, antara lain kerusuhan rasial 13 Mei 1969, berikut faktor pemicu, jumlah korban jiwa dan harta benda, dan pihak mana saja yang terlibat. Sedangkan hingga 10 tahun ini kita masih belum bisa mengakses secara terperinci topik Insiden Mei 1998 dari Wikipedia. Di situs ensiklopedia bebas itu tertulis ‘ Masalah sensitif tanpa referensi ‘ .
Mengapa harus kita menyalahkan anak-anak remaja atas hilangnya identitas kebangsaan mereka, sedangkan kita kaum terdahulu belum juga bisa menemukan, bahkan mencari identitas kebangsaan itu yang seperti apa wujud dan baunya ? Kita terlalu takut untuk berhenti berbohong, dan mengakui kalau kita sudah berbohong. Topeng kewibawaan, norma-norma dan doktrin-doktrin tiada jemu-jemunya kita pasang sebagai perisai agar konsekuensi kejujuran tidak bisa melukai kita. Ok, dalih keamanan dan stabilitas nasional adalah argumen paling masuk akal untuk menjawab ketidakperluan pengungkapan kebohongan publik dan sejarah , dan dikhawatirkan memicu gonjang ganjing nasional suatu masa nanti. Jadi mau berbohong sampai mati, begitu ?
Ajaran Islam mengatakan, di hari Idul Fitri manusia akan terlahir kembali, suci seperti bayi karena sudah di ‘putihkan’ dari dosa-dosa selama hidup di Bumi. Nah lalu siapa yang bisa mengatakan perbuatan A itu berpahala/ benar dan perbuatan B itu berdosa/ salah ? Kitab suci Al Qur’an tidak akan bisa mengatakan apa-apa kecuali kita yang bersuara membaca isinya, dan memahami maknamya. Dalam artian, pertama-tama adalah suara hati Andalah yang akan menuntun jiwa berketurunan kera itu untuk mengerti dan mengakui kebenaran dan kesalahan. Untuk melepas kedok dan kemudian membukakan mata untuk melihat cahaya. Untuk berjalan dalam terang dan meraih cita-cita. Untuk akhirnya menemui siapa Anda-anda sesungguhnya.
Selamat Mencari !
Posted by
mahasasi
at
10:54 PM
1 comments
Subscribe to:
Posts (Atom)



