14 Juli lalu genap 211 tahun sudah Revolusi Prancis diperingati sebagai tonggak yang menginspirasi perjuangan melawan imperialisme di benua Amerika, Afrika dan Asia. Pekik Liberty, Equality, Fratenity ( Kemerdekaan, Kesetaraan, Persaudaraan ) telah dua abad lebih menggema hingga ke pelosok muka bumi. Harapan untuk perubahan social, ekonomi, budaya dan segala aspek kehidupan tumbuh dewasa di belakangnya. Bersamaan dengan itu, adalah teguran dan kritikan penuh kasih sayang dari mereka yang masih setia kepada para penguasa dunia yang sedang terlena dalam pelukan harta untuk mengingat kembali komitmen menegakkan kebenaran dan kesejahteraan seluruh warga.
Bukan berarti mereka masih menginginkan revolusi, kata terlarang yang membikin semua diktator lalim merinding, berdarah-darah membasahi ibu pertiwi masing-masing. Namun kelaparan akibat menurunnya daya beli masyarakat, faktor pemicu gegap gempita Prancis ratusan tahun lampau, masih dijumpai beberapa tempat. Pula, masih ada bom-bom meledak atas nama agama, peluru berdesingan mencacatkan anak-anak tanpa dosa dan agresi militer untuk menyelubungi persaingan tidak sehat memperebutkan sumber daya alam milik tetangga. Sementara para pengusaha berpikir keras bagaimana meraup untung banyak dengan sedikit pengeluaran, para pekerja yang lelah memeras keringat bergantian menuntut perbaikan upah. Apakah memang sudah gawan bayi ataukah takdir, bahwa perjuangan menegakkan kebenaran tiada akan pernah berakhir ?
Kemerdekaan
Kemerdekaan sebenarnya merupakan istilah yang di ‘hiperbola’kan dari kebebasan. Anak buyutnya kebebasan, kurang lebih. Sedangkan kebebasan sendiri mengandung arti semacam perasaan lega, lepas, karena hilangnya tekanan, belenggu, ancaman dan terror. Semacam perasaan ingin terbang melayang di hampa udara. Seupama layang-layang putus, berputar-putar kemana tiupan angin membawa. Ibarat seekor kuda, berlari kemana kakinya ingin pergi. Layaknya ABG, berbuat dan berucap sesuai kehendak hati.
Semua manusia pada awalnya lahir bersama perasaan itu. Manusia lahir tanpa membawa apa-apa, termasuk pakaian yang melekat di badan. Tidak juga beban dosa maupun masalah para orang tua. Suci, murni, polos, kadang sedikit naïf. Keluarga, masyarakat dan Negara bertanggung jawab memberikan pengetahuan kepada si manusia baru bagaimana menjaga, mengarahkan dan menggunakan kebebasannya. Namun di tengah jalan dan di suatu saat dan tempat, mereka pernah mengalami saat-saat dimana kebebasannya terampas dan harga diri sebagai manusia pun terhempas. Dan hanya sedikit sekali diantara mereka yang beruntung menyadari bahwa keterampasan serta keterhempasan itu penyebabnya 90% berasal dari kegagalan di dalam dirinya untuk mengambil alih kendali dan mempertahankan kebebasan.
Mengapa demikian ?
Manusia memang keluar dari rahim bunda bersama kebebasan, hak asasi, absolute freedom, dsb,dst… dan sendirian ( kecuali anak kembar 2, 3, 4, dll. ). Semasa kanak-kanak adalah bapak, ibu, saudara-saudara, kakek, nenek, paman dan bibi menjadi teman yang mengasuh, memberi makan, nasihat, menyekolahkan dan memberi uang jajan. Lalu tibalah masa ketika ia harus melangkahkan kaki ke luar rumah dan mendapatkan kebebasannya, adalah ia dan hanya dia seorang yang berhak dan bertanggung jawab memutuskan segalanya. Kadang-kadang rasa ingin tahu yang terlampau liar memaksanya menyerah mencoba melakukan hal-hal yang dilarang oleh hukum, ajaran agama maupun norma-norma sosial. Saat konsekuensi menagih pembayaran berupa kebebasan yang dimilikinya, barulah ia menyesal mengapa terlambat memutar haluan.
Warga pribumi Indonesia sudah sejak ribuan tahun lampau menjadi pusat pelampiasan iri hati warga belahan dunia lain. Betapa tidak, warga pribumi hidup berkecukupan sandang, pangan, papan, gemah ripah loh jinawi. Malangnya, warga pribumi tidak tahu menahu tentang potensi yang terpendam di dalam tanah dan laut. Sedangkan para raja penguasa tanah pribumi pada saat itu terlampau sibuk berperang memperluas wilayah kekuasaan, bersengketa dengan kerabat-kerabat yang tergiur empuknya kursi istana dan mencari selir-selir baru. Para pedagang, tamu kerajaan yang berkulit putih dan bermata biru melihatnya sebagai kelemahan. Dan karena mereka pada saat itu juga sangat membutuhkan hasil bumi dan sumber daya alam lain yang murah, cepat dan tepat untuk mencukupi kebutuhan dalam negerinya sendiri, maka terjadilah apa yang kita sebut sekarang sebagai penjajahan alias imperialisme.
350 tahun ? Yah, bukannya saya mau menjelek-jelekkan nenek moyang kita yang sudah beristirahat dengan tenang dan merdeka di ‘ dunia ‘nya sendiri, namun, seperti yang sudah saya kemukakan di tulisan terdahulu, keadaan alam yang kaya raya kadang terlampau memanjakan sehingga manusia cenderung lekas berpuas diri dan malas mencari pengetahuan lebih di luar lingkungan yang serba enak. Para pendahulu kita terlambat menyadari bahwa mereka tidak hidup sendirian di luasnya Nusantara. Mereka berjuang sendiri-sendiri bersama golongannya sendiri serta belum memiliki pengetahuan tentang teknologi persenjataan terbaru. Mengira bahwa keris sudah cukup sakti mandraguna, satu demi satu pahlawan lokal menemui ajal di penghujung bedil.
Kesetaraan
Semua manusia, kecuali mereka yang kebetulan mendapat anugerah terselubung berupa cacat fisik, dilahirkan dengan satu kepala, dua tangan dan kaki, dua mata, satu hidung dan satu mulut. Sepintas terlihat sama. Selain nama, apa yang membuat mereka berbeda dan dibedakan antara satu dengan lainnya ? Warna dan jenis rambut ( hitam lurus atau kribo coklat ) ? Warna mata ( biru, hijau, coklat, hitam ) ? Warna kulit ( hitam, coklat, putih, kuning, merah )? Golongan ( atas, menengah, bawah ) ? Asal usul/ leluhur ( bangsawan, rakyat jelata, blasteran antara bangsawan dan rakyat jelata ) ? Pekerjaan ( direktur, manajer, karyawan ) ? Jenis kelamin ( laki-laki, perempuan, setengah laki-laki dan atau setengah perempuan ) ? Umur ( anak-anak, dewasa, lansia ) ? Jumlah materi ( kaya, miskin, setengah miskin ) ? Kepercayaan ( Anda sebut sendiri lah please ) ?
Sejumlah perbedaan tersebut ternyata melatar belakangi sebagian kecil orang untuk merasa lebih, yakin bahwa dirinya/ mereka adalah numero uno, the chosen one, satria pinilih. Dan oleh karenanya merasa berhak untuk memberikan perlakuan tak sederajat kepada golongan lain yang tidak seperti dirinya. Anda bisa mengatakan penindasan sudah jadi sejarah yang penuh sarang laba-laba. Namun di beberapa tempat masih dapat dengan mudah kita temui sekelompok manusia yang masih harus memeras peluh untuk mendapat pengakuan atas keberadaannya dan kesamaan hak untuk mempertahankan hidup.
Apa sih kira-kira yang terlintas di benak kita ketika melihat, menemui atau mengenal seseorang yang berbeda fisik dan non fisik dengan kita ? Ah, jangan-jangan dia maling. Jangan-jangan dia maniak. Jangan-jangan dia pengintip. Jangan-jangan… jangan-jangan …Takut kah ? Itu jelas sekali terang benderang. Entah siapa yang memulai, namun paranoia terhadap sesuatu yang asing, lain, aneh dan tidak mainstream sudah ditanamkan sejak masa ingusan kakek nenek kita. Tujuan awalnya sih sebenarnya untuk menumbuhkan pertahanan swadaya seorang anak kala ia harus menempuh perjalanan seorang diri. Dilemanya, sangat jarang ditemui orang-orang yang mampu menganalisa masalah dan mengambil keputusan secepat kilat namun cermat dalam situasi genting. Yang diingat dan terngiang senantiasa hanyalah doktrin-doktrin sempit semisal : ‘ hitam jahat ‘, ‘ merah liar ‘, ‘ putih malaikat ‘. Sehingga keminderan individu berbenturan dengan ketidakpercayaan berlebih terhadap liyan sukses menumbuhkembangkan ledakan rasisme, fasisme, terorisme, seniorisme serta bullyingisme.
Persaudaraan
Beda Bapak beda Ibu tetapi bersaudara ? Kok bisa ? Tentu bisa. Buktinya frase’ persaudaraan ‘, ‘ ikatan ‘, ‘ persatuan ‘ dan ‘ perkumpulan ‘ dan sejenisnya sebagai bagian nama organisasi, yayasan, lembaga, perkumpulan, perserikatan yang dibentuk berdasarkan kesamaan minat/ hobi, tujuan dan asal muasal. Diantaranya meliputi kesamaan perguruan tinggi, ketrampilan kerja, etika, etnisitas, agama, politik, kontribusi amal dan sosial, nilai-nilai tradisional, asetisme, pelayanan publik, seni budaya, garis keturunan/ marga dan bahkan criminal. Artinya, sekumpulan orang tersebut tidak mendadak sontak bersedia menyatakan diri sebagai saudara satu sama lain tanpa alasan, yaitu kesamaan kepentingan dan nasib.
Di masa perjuangan kemerdekaan RI, beberapa kelompok generasi muda yaitu Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon berhasil menyatukan visi dan mendeklarasikan Sumpah Pemuda, dan dilestarikan hingga sekarang sebagai simbol pernyataan persatuan seluruh rakyat Indonesia pada saat itu. 5 tahun kemudian setelah RI memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, persatuan itu sedikit demi sedikit terkikis akibat meletusnya pemberontakan bersenjata di beberapa daerah. Sebut saja pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) ( 23 Januari 1950, Bandung ), pemberontakan Andi Azis ( 5 April 1950, Makassar ), pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) ( 25 April 1950, Maluku ), pemberontakan PRRI/Permesta ( 15 Februari 1958, Sumatra Barat dan Sulawesi Utara ), pemberontakan DI/ TII ( 7 Agustus 1949-3 Februari 1965, tersebar di Jawa Barat, Aceh, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan ).
Sesudah menelaah beberapa sumber saya simpulkan ada satu factor tunggal yang memicu radikalisme daerah tersebut. Yaitu, tuntutan agar otonomi daerah segera direalisasikan pemerintah saat itu. Agar hasil daerah dikembalikan lagi ke daerah, karena sebelumnya terjadinya kesepakatan hasil bumi daerah dikuasai secara penuh oleh pemerintah pusat.
Perjuangan itu dilakukan sebagai bentuk pengambilan kembali hak-hak daerah. Dikatakan oleh Bakhtiar Ngunguah ( salah satu mantan anggota PRRI Sumatra Barat yang masih hidup ) bahwa hasil daerah yang diharapkan kembali lagi ke daerah antara lain beberapa hasil bumi seperti terung, sayur mayur, tambang emas, tambang tembaga dan hasil lainnya. "Jika masalah tersebut diselesaikan dan hasil tersebut dikembalikan, kami akan akan kembali ke pangkuan ibu pertiwi yang artinya pusat tidak menang dan daerah tidak kalah, “ ( situs Padang Today, 15 Agustus 2009 ).
Manakala cita-cita sudah tergenggam erat di tangan, kita kadang terlena dan melupakan sekeliling. Dunia milik kita, yang lain penumpang gelap, begitulah kira-kira. Status bangsa terjajah ternyata ampuh menumbuhkan keinginan untuk bersatu dengan sesama warga, dengan tak memandang suku, ras, golongan maupun agama. Jadi, apakah wajib menyandang status bangsa budak belian selamanya agar tak ada perpecahan diantara kita ? Sebuah surat kabar ibu kota ternama baru-baru ini menurunkan sebuah tulisan mengenai kebiasaan-kebiasaan buruk manusia. Berada di urutan pertama adalah gossip/ menggosip. Ironisnya, kebiasaan membicarakan keburukan orang lain itu ternyata terbukti sah dan meyakinkan mampu mendekatkan hubungan dua pihak yang awalnya tak saling kenal. Persaudaraan, apakah harus diciptakan dengan mengada-adakan kambing hitam ?
Pernahkah Anda memikirkan kemungkinan Sang Maha Hidup sengaja menciptakan manusia dengan ketidaksempurnaannya agar mereka belajar, berpikir dan berbuat untuk menjadi sempurna ?
Kebenaran mutlak ? Alam bakalah tempatnya. Namun, selagi masih bernafas mengapa tidak kita berusaha semampunya untuk menjadi benar ?
PERTANYAAN-PERTANYAAN PASCA LIBERTY, EQUALITY,FRATERNI TY
Posted by
mahasasi
at
5:16 AM
0
comments
BELENGGU CITRA
Bagi Anda yang tidak suka sepak bola, tabahkanlah hati sepanjang bulan Juni hingga awal Juli mendatang, apabila terpaksa melewatkan siaran berita, pentas musik menye-menye ataupun sinetron penguras air mata. Ada yang mengidentikkan rimba persepakbolaan berikut ajang Piala Dunia kali ini dengan kapitalisme ( karena lingkaran setannya adalah pemain bagus, klub menangan, banyak penonton dan tentu saja banyak uang ), selebritas ( karena mayoritas kekasih para pemain sepak bola adalah model dan seleb hot di negaranya ), tragedi ( karena kesebelasan-kesebelasan besar, diantaranya Prancis dan Italy harus angkat koper pagi-pagi sekali. Kabar terakhir disusul Inggris ), gengsi ( jelas, apalagi jika pemenangnya nanti adalah kesebelasan Negara berkembang yang tidak punya gigi sama sekali di kompetisi besar lain seperti WTO atau G-8 ). But, whatever, it’s just a game to?
Kita tidak perlu kecewa karena kesebelasan Indonesia belum berhasil menembus tempat terhormat sebagai finalisnya, atau iri hati menyaksikan perayaan di kesebelasan Negara pemenang. ‘Kan Liga Indonesia yang barusan lewat juga menyuguhkan pemandangan yang mirip-mirip. Seandainya Anda berada di kota Malang di awal Juni lalu tentu akan ikut terpana sekaligus bangga dapat ambil bagian dalam selebrasi kemenangan dan keberhasilan Arema, klub pujaan tua muda, dewasa anak-anak, laki-laki perempuan, pribumi pendatang, pada Liga Indonesia tahun ini. Adalah konvoi sepeda motor, karnaval dan pentas musik rakyat yang memacetkan jalan-jalan utama hingga tiga hari lamanya, kurang lebih tiga minggu sebelum penduduk Brasil, Slovakia dan Korea Selatan bersuka ria menyambut keberhasilan kesebelasan mereka lolos ke babak 16 besar Piala Dunia.
Kota Malang di masa kolonial terkenal dengan sebutan Paris Van East Java, karena kemolekan alam, tata kota dan arsitekturnya. Namun generasi yang lahir belakangan ragu-ragu atas kesahihan julukan itu. Mereka lebih mengenal Malang sebagai kota mikrolet ( karena menjamurnya jumlah angkot jenis itu di setiap jalur ), kota mall dan ruko ( karena di awal 2000 mall dan ruko tiba-tiba muncul mak bedunduk menggantikan ruang terbuka hijau seperti bangkit dari kubur ), kota banjir ( karena jalan-jalan protokol selalu tergenang air di kala hujan turun lebat ) dan kota panas ( jam 9 pagi panasnya seperti jam 12 siang ). Mustahil ‘kan, bangga menjadi warga sebuah kota dengan julukan-julukan semacam ini.
Kemenangan klub yang didirikan Acub Zaenal dan Dirk Sutrisno pada 11 Agustus 1987 itu membuat mereka tidak menyesal lahir dan dibesarkan di kota Malang. Dan akhirnya bisa menegakkan kepala meski bukan termasuk warga kota metropolis yang berkulit putih, pergi kemana-mana naik mobil mewah, gaya bicara dan pakaian modisnya sering tampil di televisi. Mendadak membangkitkan kembali perasaan bangga, besar dan percaya diri di dalam benak mereka, yang sudah puluhan tahun tenggelam, atau bahkan belum pernah lahir sama sekali.
Hiperbola ? Apa sekarang yang bisa kita banggakan dalam nama Indonesia ? Bukannya menafikan arti kecintaan pada tanah air dan bangsa. Haruskah kita berbangga hati atas peringkat 3 besar korupsi se-Asia, 10 besar sedunia, tercepat dalam menggersangkan hutan, keselamatan kerja buruh migrant dicuekin, dan lain-lain, dan lain sebagainya, dan masih banyak lagi. Seperti kain lap dilemparkan di gudang, terkulai bersama debu dan kotoran di tubuhnya. Anda para orang tua bernasib baik karena tidak lama lagi meninggalkan dunia fana berikut pahit getirnya. Namun, betapa malang para pemuda, tunas kelapa dan taruna yang pasrah dan menyerah kepada ketidakberuntungan dan kebelumberhasilan di usia belia. Apalah artinya darah muda tanpa semangat, kebanggaan dan keinginan membangun masa depan ?
Bangga Atas Nama Citra
Citra yang saya maksud disini bukan merk sejenis alat kosmetika. Bukan pula nama seorang gadis jelita. Penampakan, atau kelihatannya, begitulah makna citra, kurang lebih.. Sesuatu yang kelihatan dan ingin ditunjukkan di luar. Membuat penafsiran dan opini merata mengenai sesuatu, atau seseorang. Supaya orang menyukai, menghormati, mengagumi, menyanjung atau bahkan membenci.. Mutlak dibutuhkan orang-orang yang sedang berusaha membangun kepercayaan publik, klien, konsumen, investor maupun calon mertua. Tidak itu saja, dalam kehidupan sehari-hari orang masih membutuhkan citra guna melindungi mereka dari celaan dan bisik-bisik tetangga, menerbitkan rasa hormat dari bawahan dan kolega, mengundang kepatuhan peserta didik atau warga Negara biasa, dan tentu saja simpati lawan jenis.
Tidak masalah seandainya citra atau imaji itu difungsikan sebagai stimulus, atau semacam bensin untuk melaju kencang mewujudkan mimpi-mimpinya. Sebagai cambuk agar tak mudah puas dan lebih berhati-hati berkata, berbuat dan bertindak agar imaji yang dibangun dengan susah payah tidak menjadi muspro, alias sia-sia. Namun, yang sering terjadi adalah, kepuasan dini, kadang-kadang sedikit narsis, cenderung dialami mereka yang menderita ketergantungan terhadap citra.
Manakala dihadapkan pada perbedaan yang amat besar antara angan-angan dan kenyataan, orang cenderung akan memilih potong kompas untuk bertindak dan atau menganalisa permasalahan. Konon kabarnya orang-orang yang tidak beruntung telah tersesat dan memilih kriminalitas sebagai jalan keluar. Namun segolongan lain lebih tidak beruntung. Mereka tahu sedang bermimpi, namun dipaksakannya akal sehat menerima dengan bangga dan kepala tegak kejayaan dan kegemilangan dan keanggunan simbol-simbol, seremoni, upacara-upacara, topeng-topeng norma dan kedok-kedok moralitas. Mereka meyakini ke ‘ini aku’-annya telah berhasil memanipulasi lingkungan sekitar dan tak lagi disiksa rasa putus asa. Puas sudah dipercaya, ditakuti dan disanjung orang dengan hanya menelorkan kesan dan seolah-olah, sebelum atau bahkan tanpa tindakan sama sekali.
Membalik Seolah-olah
Masyarakat mensyukuri, bersimpati dan prihatin penetapan status tersangka kepada vokalis tersohor ARL atas beredarnya rekaman mesranya dengan sesama seleb, LM dan CT. Mereka berharap vonis segera dijatuhkan seberat-beratnya, sebagai harga mahal yang wajib dibayar atas perilaku amoral dan merusak generasi muda. Para orang tua, terutama yang memiliki anak gadis, menarik nafas lega, dan menganggap selesailah sudah masalah yang mengganggu tidur mereka siang dan malam. Namun, apakah benar permasalahan kita selesai sampai disini saja ? Apakah memang benar seorang playboy cap sandal jepit pantas mendapat hukuman lebih berat daripada koruptor ? Memang sungguh tak masuk di logika dan sama sekali tak berkonsep jelas manakala seseorang merekam kemesraannya dengan kekasih A sampai Z dengan kamera video. Namun, atas dasar izin siapakah Negara merasa perlu mengatur kapan, dimana dan bagaimana warga negara melampiaskan nafsu syahwatnya ?
Kita ingin menjadi bangsa yang sempurna meraih cita-cita setinggi langit dengan membanggakan keadiluhungan budaya dan kepatuhan kita terhadap perintah agama masing-masing. Dan meyakini bahwa kemerosotan moral dan perilaku adalah penyebab utama Tuhan tidak menurunkan rejeki dan kesejahteraan merata, sebaliknya hujaman bencana alam dan kesulitan hidup pada kita. Lantas, mengapa orang-orang bule yang perilakunya lebih bejat, sangat tidak bersusila dan menjijikkan itu lebih makmur daripada kita ?
Semua tak lepas dari pola pikir nasional kita yang mengagungkan semua kegemerlapan, kebaikan, kesucian perilaku artifisial, alias seolah-olah, alias di mukanya saja. Apakah di kemudian hari benar terbukti suci murni atau berekor serigala atau menohokkan keris di belakangnya, itu urusan nomor ke seribu sekian ratus. Seorang pejabat koruptor yang beberapa kali naik haji seribu kali lebih berharga di mata masyarakat daripada seorang pemuda putus sekolah peminum yang mengamen di jalan untuk memberi makan keluarganya. Seorang raja feudal berselir tujuh yang hidup di istana bergelimang harta benda mutu manikam jauh lebih mulia daripada pria pribumi bertato yang hidup di pedalaman tengah rimba belantara. Seorang diva tersohor berkerudung yang enam kali kawin dan cerai lebih dipuji orang daripada seorang mantan seleb muda yang khilaf dan ditinggalkan pacar yang sudah menghamilinya namun kukuh menolak aborsi dan memutuskan menjadi single parent.
Secara tidak kita sadari pola pikir semacam ini telah memenjarakan kita selamanya. Raga, selama tidak melanggar hukum, bebas bepergian kemana saja. Akan tetapi, pikiran alias isi kepala kita tidak akan bisa melangkah kemana-mana. Stuck, stagnan, tidak berkembang. Menutup pintu untuk segala macam dan bentuk dialog, wacana dan strategi baru. Menyirnakan tanpa bekas jejak rintisan para pendahulu untuk memulai perubahan. Memutus harapan mereka yang selalu berpikiran positif akan tercapainya ketentraman, dan dengan sendirinya tertundalah kesejahteraan hidup.
Mengapa tidak bisa kita kedepankan kejujuran dan ketidakpura-puraan sebagai modal dan langkah awal untuk me-restart perubahan di negeri ini ? Okelah seandainya hal-hal rumit semacam pelurusan sejarah dan penegakan hukum terlampau berat untuk tulang uzur kita. Untuk menghemat waktu dan energi, ada baiknya kita mengubah strategi yang lebih sederhana. Warga asli kota Malang memakai bahasa walikan ( terbalik ) dalam percakapan sehari-hari dengan rekan sebaya. Misalnya, kata singo ( singa ) dibalik menjadi ‘ongis ‘. Edan menjadi ‘ nade ‘, dll. Terminologi walikan itu saya sarankan menjadi bahan pertimbangan kita semua dalam memandang sekaligus menyelesaikan masalah. Masalah A muncul berulang kali. Diatasi dengan berbagai macam cara halus hingga kasar tetap tidak tuntas. Ada apa gerangan ? Siapa yang salah ? Kalau biasanya kita menganggap ‘ mereka ‘ yang bersalah, mari sekarang kita balik arahnya. Bagaimana kalau ternyata kitalah yang salah ?
Begitulah. Kejadian video vulgar semestinya tidak perlu sampai membuat kita kebingungan dan cemas, seandainya sejak dini kita sudah menegaskan dan memperkenalkan secara terbuka permasalahan hubungan intim dan dunia orang dewasa berikut segala dampaknya kepada putra putri kita. Lagipula, menjadi orang tua dan ubanan bukan berarti kita harus jadul, apalagi gaptek. Kenalilah dunia anak-anak dan remaja itu supaya kita bisa memahami jalan pikiran, keinginan dan kenakalan mereka.
Posted by
mahasasi
at
1:06 AM
0
comments
NOSTALGILA MEI 1998
Posted by
mahasasi
at
11:57 PM
0
comments
MENUNGGUI RUANG TUNGGU
Pernahkah Anda menghitung, berapa kali dalam sehari Anda dipaksa untuk diam sejenak, namun bukan untuk istirahat. Untuk tidak melakukan apa-apa, tapi bukan untuk berhenti. Disuruh tidak memikirkan apa-apa, tapi otak tidak boleh tidur. Diikat pada kebekuan sesaat seperti seabad, yang namanya menunggu ?
Antrean panjang pom bensin, antrean para pensiunan mengambil bayaran di bank atau kantor pos, menunggu lampu hijau di perempatan jalan, menunggu usainya jam kantor/ kuliah/ sekolah, menunggu air mendidih, menunggu tempe matang digoreng, menunggu suami dan anak pulang, menunggu datangnya tanggal gajian, menunggu giliran membayar di kasir, antrean panjang para pelanggan listrik di PLN, menunggu loading Facebook di hari Minggu, menunggu selesainya iklan di tengah-tengah berita markus palsu, menunggu satu putaran gelas anggur berikut , menunggu, menunggu, menunggu …
Ia menguras habis tenaga, kita tidak pernah tahu dengan persis dalam hitungan menit ke berapa akan berakhir. Ada beberapa antrian yang diberi nomer urut supaya para penunggu yang kurang disiplin tidak berebut berdesakan. Tapi apakah waktu yang dihabiskan untuk melayani satu orang dan lainnya itu sama persis, sehingga para penunggu bisa tahu pasti pada detik ke berapa tibanya giliran mereka ? Posisi dan lokasi ruang tunggu sudah dibuat senyaman mungkin, sofa dan kursi empuk plus pendingin udara. Ada yang dilengkapi dengan air minum gratis, majalah-majalah kuno atau surat kabar terbaru. Tetap saja para penunggu merasa gerah, kelelahan dan frustasi. Satu detik seperti seminggu. Satu menit seperti setahun. Satu jam seperti sepuluh tahun.
Jeda koma panjang tanpa mengetahui kapan akan menemui titik di ujung jalan. Di tengah kebosanan menunggu, kadang muncul rasa was-was, akankah mendapat seperti yang sudah kita inginkan selama ini. Bagaimana kalau yang kita tunggu ternyata bom waktu yang setiap saat siap meledakkan diri kita berkeping-keping ? Bagaimana kalau ternyata bom waktu itu bukan hanya satu ? Apakah rela kita mati di dalam ruang tunggu ini, dan belum merasakan sedikitpun buah dari penantian kita ? Padahal bukan kita pelopor penyemai bom waktu. Karena kita bukanlah orang penting, pejabat, anggota dewan, apalagi presiden, hanyalah penunggu di depan layar televisi sembari berharap tidak ada lagi bom waktu keluar dari situ. Namun apa daya, satu demi satu bom waktu telah dan masih akan meledak. Kita melihatnya di dalam Mbah Priuk, koin Prita M., Munir, Ahmad Tajudin ( petugas Pol PP yang diduga tewas dimassa ), Mei 98, Sambas, Petrus, September 65-66, Century, Santa Cruz, DOM Aceh-Papua, Boneks,… tinggal pilih !
Sabar Menanti
Tak seorang manusia pun di masa kecilnya bercita-cita menjadi kaum frustasi, pengidap depresi, atau penggemar klub bunuh diri massal. Boleh saja Anda berpendapat mereka kurang keras memelihara kesabaran, menafikan ketangguhan proses dan terperangkap kehalusan artifisial ( permukaan ) yang menutupi kekerasan di dasar jurang. Terhipnotis sinetron, iklan dan ilusi tentang kesejahteraan, kebahagiaan dan harga diri yang diciptakan oleh pemilik modal dalam rangka mengenyangkan perut segolongan orang fasis nan kapitalis. Lama-lama orang-orang kecil ini merasa tertipu, lalu kecewa membuat pilihan keliru, lalu menyalahkan diri sendiri yang bebal, lalu melukai tubuh dengan kebiasaan-kebiasaan dan cara hidup yang jauh dari sehat.
Namun bukan berarti tertutup sama sekali pintu harapan bagi mereka yang menolak menjadi penunggu setia di semua ruang tunggu manapun di muka Bumi. Akan tiba saatnya manusia menyadari bahwa ketentraman tidak bisa dibeli, apalagi diraih dengan melakukan hal-hal yang mencederai hati atau perasaan mereka sendiri. Untuk yang satu ini pun memakan beberapa waktu, dan lagi-lagi kita harus menunggu. Tapi apakah harus duduk terbengong-bengong pasrah ? Tidak juga. Karena untuk menaklukkan waktu yang berkepribadian dua, lambat seperti keong cepat seperti kereta ekspres, membutuhkan energi, resistensi, konsentrasi dan konsistensi tinggi.
Maka kita bekerja supaya bisa membeli bahan makanan bekal energi kita dalam perjalanan mengarungi satu ruang tunggu ke ruang tunggu lainnya. Upgrade sebuah piranti/ system lama dengan piranti/ system baru yang larinya lebih kencang ke tujuan, membawa perenungan kita pada realitas-realitas berikut revelasi-revelasinya, menghadirkan hiburan-hiburan musik dan gaya barat, timur, utara, selatan yang anti mainstream alias trend. Menjalin komunikasi yang hangat, akrab dan bersahabat kepada mereka, sesama penunggu di kanan dan di kiri. Membersihkan lingkungan sekitar sehingga tergerak kecintaan dan kepekaan terhadap alam berikut isinya. Mengingat-ingat kisah di masa lalu, berikut kejayaan dan masa tenggelamnya kemudian menyimpulkan dengan tepat dan akurat nilai-nilai mana yang merupakan kebijaksanaan kolektif lokal atau sekedar dogma. Mengharap umur panjang agar bisa menyaksikan wujud akhir perubahan yang sedang kita rintis.
Sebelum bom waktu meledak kita masih punya sedikit waktu, yang bisa kita atur dengan bijaksana untuk mencari cara dan daya upaya untuk menjinakkan bom waktu ini. Dia adalah bom waktu, seperangkat alat bikinan manusia, yang semestinya bisa dijinakkan oleh manusia juga. Gumpalan penolakan-penolakan, bisa dihancurkan oleh penerimaan-penerimaan, yang cukup ditanam dengan sedikit mengalah untuk menang. Kejujuran bisa saja sangat menghancurkan, namun demikian kita tak akan pernah menyesal karena ada ketentraman menunggu di akhir cerita.
Posted by
mahasasi
at
6:24 AM
0
comments
KETAHANAN SIPIL
Revolt against destiny ( Bad Religion )
Mari kita coba menghitung, dengan uang sepuluh ribu rupiah, apa saja yang dapat kita beli dalam satu hari. Beras 1 kg 7 ribu, gula ¼ kg 4 ribu, uang jajan anak-anak ?, uang belanja ?, uang sumbangan RT ?, uang arisan ?, uang cicilan sepeda motor ?...
Di sela-sela keruwetan otak itu, apa hiburan kita ? Beruntunglah mereka yang tidak atau berhasil melepaskan diri dari ketergantungan terhadap rokok. Meski dianalogikan sama dengan membakar uang, buat sebagian orang merokok adalah teman di kala badan sudah kelelahan menolak untuk digerakkan, menemani otak yang berjalan-jalan mengembara mencari lubang-lubang penghasil uang entah kemana.
Pihak-pihak yang memutuskan rokok tidak baik untuk kesehatan itu mengatakan, rokok atau membeli rokok juga akan menambah kemiskinan, sekaligus cerminan tiadanya kasih sayang dan penghargaan terhadap diri sendiri. Bahkan seorang ahli motivasi kondang pernah menandaskan, perempuan perokok tidak layak untuk dinikahi. Sayangnya oknum-oknum di atas bukanlah pecinta sepak bola lokal, yang tanpa sponsor dari pabrik-pabrik rokok tidak akan seheboh sekarang. Mereka juga tidak punya anak, sepupu atau keponakan berprestasi yang mendapat beasiswa pendidikan dari pabrik rokok. Mereka sudah terlalu nyaman di dalam rumah mewah, mobil mewah dan posisi mewah, sehingga tidak menghitung, atau mungkin lupa, ada ratusan ribu pekerja yang memberi makan keluarganya dengan bekerja sebagai buruh pabrik rokok.
Kita adalah manusia, yang by accident dilahirkan dan dibesarkan di sebuah Negara yang bernama Indonesia ini. Kita lahir membawa hak-hak yang harus kita dapatkan entah bagaimana dan kapan. Sekaligus diikat dengan kewajiban-kewajiban yang juga harus kita patuhi tanpa tawar menawar. Buku pelajaran PPKN telah mendogmakan, laksanakanlah kewajiban terlebih dahulu sebelum menuntut hak. Demikianlah seharusnya sikap warga Negara yang baik serta teladan.
Warga Negara Yatim Piatu
Tidak hendak mengeluh atas bertambahnya beban hidup, atau praktek ekonomi biaya tinggi yang harus kita telan mentah-mentah dewasa ini. Kemiskinan, kelaparan, kerusuhan, pembohongan publik, korupsi, kerusakan alam karena kerakusan manusia, dll., dll… Bagaikan anak yatim piatu, tidak punya orang tua tempat bersandar dan tidak punya saudara tempat berkeluh kesah. Padahal sebuah Negara tanpa keberadaan warga Negara, apakah masih bisa disebut Negara ? Semisal semua warga Negara tua muda, dewasa dan anak-anak tanpa terkecuali mati mendadak karena serangan penyakit atau bencana alam dan meninggalkan seluruh gugusan pulau besar dan kecil Indonesia kosong melompong, apakah sanggup penguasa Negara mengatur semuanya sendiri saja ? Bisakah sang majikan yang biasa duduk santai menunggu uang datang mengerjakan pekerjaan kasar para pembantunya ?
JF. Kennedy mengatakan ‘ jangan tanyakan apa yang sudah diberikan Negara kepadamu, tapi tanyakan apa yang sudah kau berikan kepada Negara ‘. Sir, kami sudah berikan kepatuhan kami kepada Negara. BBM naik sekian, listrik naik sekian, beras, gula, minyak, sabun, dll naik sekian tetap menerima dengan lapang dada. Ada protes kecil-kecil itu pun hanya sebagian kecil yang sudah tak kuat menahan amarah. Korban bencana alam tidak ditangani tuntas dan terkatung-katung kleleran bertahun-tahun, tidak apa-apa. Ada yang mengancam mau mendirikan Negara sendiri, pelan-pelan melunak dan bergabung kembali dengan Jakarta, Timor Leste sebagai pengecualiannya, tentu saja. Singkatnya, seharusnya Negara bersyukur memiliki warga Negara sebaik dan setabah kita, meski kadang sedikit bebal dan tidak tahu aturan. Dan seyuogyanya membalas kepatuhan kita itu dengan kebijakan-kebijakan plus tindakan-tindakan yang 99,9% berpihak kepada kemakmuran rakyat.
Pertahanan
Lalu, apa yang tersisa pada kita di tengah gempuran tekanan dan beban hidup yang menggila ini ? Dulu memang tanah air kita ini kaya raya dengan hasil alam, pertanian dan rempah-rempah. Memang sangat menguntungkan dari segi ekonomi. Namun mental kita menjadi lemah, karena tak perlu bersusah payah mengisi perut. Mau makan ikan tinggal mancing, makan daging rusa tinggal pasang jerat, mau makan sayur tinggal ambil di pelataran rumah. Ambil, ambil, ambil … Mari kita persalahkan diri sendiri karena menguasai sedikit sekali pengetahuan untuk menghemat dan memenej sumber daya kita. Semua makhluk hidup di dalam siklus yang senantiasa berputar. Apa yang dulu hidup, suatu saat mati. Apa yang dulu di atas, sekarang di bawah. Siapa yang dulunya kaya, bisa saja menjadi papa. Apa yang dulunya berlimpah lama-lama habis.
Sebagian orang mempercayai kiamat, bencana alam dan atau revolusi sebagai jalan keluar mengakhiri semua permasalahan global maupun nasional. Sekilas seperti hendak membunuh diri sendiri, dengan meminjam tangan Waktu untuk melakukannya. Saya tidak menyalahkan mereka yang meyakininya. Apa boleh buat, ketahanan dalam diri setiap orang berbeda-beda ketebalannya. Maka sudah menjadi tugas kitalah, yang masih sanggup menegakkan kepala ini, untuk membangkitkan semangat untuk bertahan itu kepada mereka yang membutuhkan.
Yakinlah bahwa kita, warga Negara keras kepala ini, adalah orang-orang kuat dibandingkan sesama kita di Negara-negara lain. Coba hitung saja, sudah berapa puluh tahun terlewat semenjak kedatangan krisis ekonomi 1997 lalu ? Di kala Negara-negara Eropa dan Amerika kelimpungan didera krisis finansial global dan para ahli meyakinkan dengan susah payah bahwa imbasnya tidak akan sampai kemari, masih bisa kita duduk merokok berkata ‘ krisis yang mana, Gan…‘ Boleh-boleh saja orang mengatakan bangsa kita bermental tempe : lemah, bodoh, norak dan jorok. Tapi ingat lho, justru karena makan tempe maka sebagian dari kita bisa menjaga perut dari rasa lapar. Orang bisa disebut pandai setelah merasakan pahitnya menjadi orang bodoh. Karena tidak pernah menjadi lemah, maka seseorang tidak akan bisa menghargai yang namanya kekuatan. Benar kita menghirup udara di abad instant, yang dipenuhi perangkat untuk memutus jeda waktu. Namun, sebelum ada Pentium 4 ada yang namanya Pentium 1. Sebelum menjelma super canggih ternyata si perangkat teknologi pun harus melewati babak demi tahap. Jadi siapa bilang proses tidak penting, yang penting hasil akhir ?
Instead of meneriaki Negara atas kurang beruntungnya nasib, dan toh kita masih selalu akan melawan tembok yang sama, lebih baik kita gulung saja lembaran suram ini dengan tangan kita sendiri. Sejarah menulis dan mendokumentasikan kenyataan bahwa manusia sudah berhasil memapankan diri sendiri dan beranak pinak selama berpuluh tahun sebelum berdirinya Negara. Ratusan tahun yang lalu nenek moyang kita berjaya meski tanpa diurusi Negara. Namun dalam perkembangannya manusia dibikin manja oleh bujuk rayuan Negara. Saya tidak menentang eksistensi Negara. Namun, mengapa dia selalu gagal memenuhi kewajibannya pada kita ?
Anda semua adalah manusia-manusia berharga yang, meski kekurangan kasih sayang dari Negara, masih bisa hidup, berkarya dan bekerja. Maka, biarkan saja Negara tercekik dengan masalah-masalah yang disemainya sendiri. Mari kita duduk manis di depan siaran berita televisi dan menertawakan dia. Hahaha….
Posted by
mahasasi
at
2:41 AM
0
comments

