Monday, May 30, 2011

"Sedangkan sebetulnya cara mendapatkan hasil itulah yang lebih penting daripada hasil sendiri. “
(bab 3, ilmu alam -science page 99)
— Tan Malaka (Madilog)

Umur panjang di mata kaum berdaya hidup rendah dan terlalu banyak menelan kekecewaan di usia muda dipandang sebagai siksaan, yang hanya bisa diakhiri oleh kematian. Maka, mereka mengambil jalan pintas di penghujung tali jemuran maupun lubang sumur. Sedangkan di batin mereka yang masih tabah, umur panjang adalah berkah. Yaitu masih diizinkan untuk menyaksikan, kalau perlu turut serta dalam perubahan lingkup lokal, nasional maupun global.

Ada sebersit pengharapan di balik kata ‘perubahan’. Misalnya, perubahan musim dari musim penghujan ke musim kemarau besar artinya bagi para petani. Karena ladang, kebun dan sawah mereka bakal mendapat cukup sinar matahari untuk hasil panen maksimal. Begitu juga dengan perubahan mode dan teknologi, yang akan disambut dengan gembira oleh kaum muda-mudi yang dahaga berkepanjangan terhadap hal-hal baru demi mengaktualisasikan keberadaan diri masing-masing, sekaligus memungkinkan para industrialis di bidang tersebut untuk menangguk untung sebesar-besarnya.

Namun, ada satu perubahan dalam skala nasional yang sampai sekarang saya sesalkan. Ia bernama ‘reformasi ‘. Sebagai anak muda di awal masa akil balig yang masih dipenuhi semangat menegakkan keadilan ideal yang menyala-nyala, saya dan sejumlah mereka yang setia turun ke jalan saat itu telah melakukan kesalahan besar dengan sama sekali tidak memprediksikan ke arah mana angin bertiup paska turunnya sang Jendral sepuh Soeharto. Siapa sangka ternyata orde reformasi yang diperingati tiap tahun di bulan Mei sejak 1999 itu nyaris gagal mewujudkan perubahan signifikan. Malah kian menjauh dari cita-cita para founding fathers sebagai bangsa yang besar, bergengsi dan tidak malu-maluin.

Bukan Mie Instan, Katanya
Sudah enak, bikinnya cepat, gampang lagi. Semua kelebihan itu membuat mie instan disukai masyarakat segala lapisan dan usia. Kaum pengusaha warung dan toko kelontong menyukainya karena cepat laku dan tidak bakal basi. Kaum anak kos menyukainya karena dapat diandalkan sebagai pengganjal perut di tanggal-tanggal kritis alias menjelang akhir bulan. Kaum ibu menyukainya karena dapat menjadi alternatif makanan di kala putra-putri tersayang mendadak sulit makan.

Namun, mie instan ternyata menggenggam senjata mematikan di balik kelezatan cita rasanya. Zat pengawet mie kering dan bumbunya yang mengandung MSG ( monosodium glutamat ) mengancam kesehatan para penggemarnya. Mulai dari kanker, hipertensi, gangguan pencernaan, gangguan tidur sampai penurunan kecerdasan. Meski produsen mie instan ramai-ramai melontarkan bantahan, korban tetap berjatuhan.

Hikmahnya, apa yang dari luar nampak lezat, mudah, menyenangkan plus cepat, dalam artian tidak perlu bersusah payah untuk meraih/ mewujudkannya, belum tentu 100 % aman. Demikian juga dengan yang namanya perubahan ( sambil menghidupkan tombol ‘ menghibur diri ‘ mode on ). Revolusi ( definisinya menurut Eyang Wikipedia adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat ) mungkin adalah pilihan terakhir bagi mereka, rakyat yang habis kesabaran menunggu bergantinya rezim, situasi ekonomi plus nasib, dari yang lama, usang dan bulukan kepada yang baru, hangat dan kinyus-kinyus. Tapi apakah revolusi 100 % aman ?

Perubahan memang bukan mie instan, yang siap dinikmati dalam tempo 3 menit saja. Menjatuhkan pilihan kepada perubahan sama artinya dengan menjatuhkan diri sendiri ke dalam medan pengembaraan abadi. Kita bisa tersesat bila tak pandai-pandai membaca kompas. Kalaulah memang perubahan itu begitu mbulet, berliku bak benang jahit ruwet tak tentu arah, membumihanguskan segenap sumber daya hingga ke dasar, menyayat-nyayat hati karena tak sesuai dengan harapan, ngapain juga kita musti ngoyo berubah atau mengada-adakan perubahan ? Bukankah lebih baik berdiam dengan selamat di keadaan semula, yang stabil, mapan, statis, aman dan stagnan ?

Hati-Hati Di Jalan, Sayang
Tan Malaka dalam Madilog juga mencetuskan, ada empat hal yang mempengaruhi pola pikir penduduk suatu negara. Yaitu : pertama, Wilayah. Pola pikir penduduk negara kelautan alias maritim yang selalu waspada terhadap perubahan cuaca dan arah angin laut jelas berbeda dengan pola pikir penduduk negara agraris yang cenderung mengambil jalan tengah demi menjaga ketenangan dan ketentraman bersama. Kedua, Iklim. Pola pikir suku Eskimo penghuni Kutub Utara yang berkonsentrasi penuh mengatasi satu musim saja seumur hidup mereka, yaitu musim dingin, jelas tak ada miripnya dengan pola pikir suku bangsa penghuni benua Eropa yang musti beradaptasi dengan empat macam musim yang datang silih berganti setiap tahunnya.
Ketiga, Teknologi. Apa sebab manusia zaman sekarang mudah sekali meluapkan emosi baik secara fisik maupun verbal ? Karena mereka sudah terlanjur dimanjakan oleh kemajuan teknologi. Tidak bisa mengirim SMS ( pesan singkat ) karena keterbatasan kapasitas jaringan provider seluler saja sudah mengeluarkan serapah kebun binatang. Bandingkan dengan 10 tahun sebelum sekarang, saat sebagian penduduk di bagian terpencil negeri ini musti menunggu berhari-hari bahkan berbulan-bulan untuk menerima sepucuk surat dari handai taulan di pulau seberang.
Keempat, Kelas Yang Sedang Berkuasa. Warga negara yang baik adalah mereka yang selalu tunduk kepada perintah pemimpinnya. Di mata rakyat jelata pemimpin adalah Justin Beiber, bintang pujaan sekaligus pencetus tren. Mereka memilih pemimpin berdasarkan kesepakatan bersama, bahwa sang A adalah sosok linuwih ( berkelebihan ) dan dianggap paling tahu dan mampu memutuskan dan menerapkan cara-cara mustajab menuju keadilan dan kemakmuran merata. Asal usul kelas/ lapisan masyarakat darimana sang pemimpin itu berasal turut andil dalam pengambilan kebijakan/ keputusan yang akan, sedang atau sudah dibuatnya. Dan dengan sendirinya mempengaruhi pola pikir masyarakat awam untuk berpikir dan bertindak sebagaimana dicontohkan sang pemimpin kepada mereka.

Karena pikiran adalah hasil dari proses menahun sepanjang hayat, baik melalui kontemplasi mencari kebenaran dengan upaya sendiri, maupun buah dari indoktrinasi tanpa henti. Maka merubah jalan liar pikiran tidaklah semudah membalik telapak tangan.
Namun antiklimaks pemikiran segolongan manusia bisa datang tiba-tiba akibat terpaan badai berantai, yang tak hanya memusnahkan harta benda dan jiwa namun juga harga diri, resistensi dan progresivitas cakrawala pemikiran mereka. Dahulu kala boleh nenek moyang kita menepuk dada sebagai bangsa maritim berkepribadian kokoh nan digdaya. Ketangguhan itu sedikit demi sedikit terkikis bukan oleh datangnya pengaruh-pengaruh dari luar apapun juga. Melainkan karena perang diantara sesama saudara yang saling memperebutkan tahta di penghujung senjakala kerajaan Majapahit. Manakala para raja dan abdi setianya sibuk mengadu otot tentang siapa yang terkuat dan mumpuni memimpin negara, rakyat jelata hanyalah penonton sandiwara. Lantaran bosan, capek dan bingung kehilangan teladan dan kebijaksanaan dari para pemimpin yang mulia, mereka membubarkan diri, meninggalkan perahu perang dan senjata, lalu pergi jauh ke pedalaman. Singkat kata, berakhirlah peradaban agung Nusantara sebagai bangsa maritim oleh kekurangpandaian penguasanya sendiri.

Apakah kita musti meratapi kesialan ini ? Cup,cup,cup ... Jangan menangis, Sayang. Kegagalan itu sendiri sudah cukup ampuh melukai harga diri. Janganlah kita menambah penderitaan hati yang luka dengan segala bentuk manifestasi perasaan negatif ( minder, takut gagal, iri, syak wasangko, dst. ). Kita hanya akan memanen apa yang kita tanam. Sudah menyemai bibit apel, tidak mungkin akan mengunduh jengkol, apalagi petai. Jagalah api gairah untuk melakukan perubahan, ( kemungkinan besar sekali ) itulah kuncinya. Perubahan diawali dari dalam semangat Anda semua. Jika dan hanya jika ia stabil, Anda bisa menggeser cara dan sudut merespon sebuah maupun semua masalah. Babak demi babak drama kehidupan masing-masing akan memberi petunjuk apa, mengapa dan bagaimana kita harus merubah.

OK. Selamat Jalan. Semoga Anda selamat sampai tujuan … !

DARKLIGHT

Friday, May 6, 2011

ADU NASIB

Wednesday, April 13, 2011

“ Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum hingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri “ ( QS Ar-Ra'd 13 : 11 )

Zaman ini dari hari ke hari makin ajaib. Untuk bertahan hidup kita tak cukup mengandalkan kekokohan pribadi, ilmu pengetahuan dan teknologi, makanan bergizi, moral dan keimanan setinggi langit, dan, terakhir, ilmu kebal. Ilmu kebal ? Ya, ilmu kebal alias anti terhadap serangan apa saja. Kebal senjata tajam, kebal santet, kebal pelet, kebal api dan kalau bisa kebal hukum sekalian. Agar Anda bisa menjadi despot tersukses, dan meraih segala keinginan dengan banyak perang kata-kata, hujan air ludah dan sedikit kerja keras. Para penonton di pinggir lapangan bertanya-tanya, di perguruan silat manakah sang pendekar mendapatkan ilmu kebal semandraguna itu ? Kalau muridnya saja sudah sehebat ini, apa jadinya jika sang guru turun gunung dan mengobrak-abrik rimba persilatan dengan ilmu kebal versinya yang lebih

Toh demikian, masih ada satu jenis ilmu kebal yang belum dikuasai sang master, yaitu ilmu kebal malu alias rai gedhek. Berhubung master silat kita ini ternyata masih keturunan Jawa, yang tersohor sebagai pejuang wibawa dan harga diri a.k.a gengsi, beliau lebih memilih berkelit kesana-kemari ketimbang mengakui kesalahan. Lebih mudah melempar batu kesalahan kepada bawahan daripada menundukkan tubuh dalam-dalam dan mengundurkan diri secara terhormat ala samurai Jepang. Orde Baru memang sudah lama tumpas. Hanya jejak kakinya sulit dihapus waktu. Orang-orangnya memang sudah dihakimi ajal. Namun doktrin-doktrin mereka masih tertanam subur di benak dan sel-sel kelabu otak kita.

Di masa 80-an para orang tua anak gadis tak rela anaknya dinikahi lelaki biasa-biasa saja. Mereka menginginkan calon menantu dari golongan menengah atas yang bisa dipamerkan ke kolega-koleganya atau di ajang arisan keluarga. Para gadis era 80-an itu kini sudah menjelma jadi ibu-ibu perumahan yang selalu punya waktu luang untuk bergosip di pagi hari, menyelidiki siapa tetangga yang baru beli sepeda motor atau berapa jumlah ponsel yang dimiliki si F. Nah, karena semasa muda sudah didoktrin untuk mendahulukan penampakan luar, maka mereka pun ogah ketinggalan dan kalah bersaing dengan tonggo teparo ( tetangga sebelah menyebelah ) nya yang notabene adalah orang-orang asing yang tinggal dan mengetahui secara terperinci polah tingkahnya sehari-hari. Maka para bapak perumahan adalah korban kekerasan dalam rumah tangga di saat mereka tak berkutik terhadap rengekan kaum ibu yang menginginkan barang-barang tersier. Tak ada pilihan lain, berhutang adalah jalan keluar satu-satunya supaya bisa tetap makan nasi, isi bensin dan kontinuitas uang jajan anak-anak. Pilihan yang mendilematiskan. Mengingat imbas dari berhutang adalah peperangan babak dua selepas pulang kantor : tawar menawar dengan para  debt collector alias penagih utang.

Awal yang Bahagia
Buah jatuh dari pohon tidak akan jauh berbeda dari bibit yang sudah ditanam berpuluh tahun sebelumnya. Itu juga kalau si pohon beruntung tidak kena penyakit, digusur proyek real estate atau kena pelebaran jalan, lolos dari kebakaran hutan, dan cukup kokoh untuk di K.O tsunami. Pada saat sebutir bibit dikubur di tanah, para penanamnya dianjurkan bertafakur mengucapkan doa. Karena dalam kegelapan under ground bibit kecil itu memulai perjalanannya, sendirian. Dalam genggaman Waktu ia berserah diri, kapan dan jam berapa tunasnya boleh memulai mengaktualisasikan eksistensinya. Saatnya kualitas bibit itu mengambil alih kendali. Cukup cerdikkah ia untuk memilah, memilih dan memutuskan cara, metode, jalan mana yang ditempuhnya untuk merambat ke atas mentransformasikan diri sebagai tumbuhan baru gede.

Pada babak ini Anda memerlukan sedikit kerja keras dalam rangka mempraktekkan segala ilmu, pengetahuan, ajaran agama, kepercayaan dan nasehat orang tua yang sekian puluh tahun dijejalkan bulat-bulat. Juga, adalah ajang  trial and error untuk membuktikan dengan mata kepala sendiri kesahihan teori-teori serta doktrin-doktrin tersebut. Jikalau Anda tak sempat meraih gelar sarjana di perguruan tinggi ternama, masih ada sebuah kampus kehidupan lain yang menerima Anda dengan tangan terbuka. Anda tak perlu khawatir adanya kenaikan SPP maupun SKS, karena disini semuanya tinggal ambil. Anda tinggal memikirkan bagaimana agar kaki tidak keliru mengambil langkah. Karena tiap jalan yang Anda pilih menuntut pembayaran tunai yang disebut konsekuensi.

Sepanjang hayat kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Dan Anda bebas pergi jika jalan pilihan Anda itu ternyata keliru, atau terhalang galian kabel telepon di tengah-tengahnya. Ketika memutar arah, terbitlah penyesalan : membuang waktu demi menempuh jalan buntu. Namun kiamat ( mungkin ) masih jauh dan selagi masih mampu bernafas dan bercinta hidup belumlah berakhir. Mari merunut ke titik awal sebelum kita melangkah. Disini kompas kita rusak, dan tak seorangpun yang bisa dimintakan nasehat dan petunjuknya musti lewat jalan yang mana lagi kita lanjutkan perjalanan. Maka beristirahatlah sambil minum secangkir kopi, Kisanak. Karena sebagian besar dari kita tak dikaruniai kemampuan untuk meramal nasib, maka tak ada salahnya kita manfaatkan rehat minum kopi tersebut untuk menganalisis possibilities dan probabilities, segala kemungkinan terbaik maupun terburuk. Oya, sambil meningkatkan abilities ( kemampuan ) kuatnya kaki kita untuk melangkah tentunya.

Who Dare Lose ?
Bekal sudah cukup, badan sudah bugar, amunisi full loaded. Nah, apalagi yang kurang ? Sekarang kita siap dan lebih siap lagi untuk menaklukkan medan perang. Siap untuk menjelajah jalan tol berlubang berkerikil tajam-tajam, menyusuri kedalaman jurang, melayari lautan tenang yang menyembunyikan rapat-rapat tsunami di dasarnya, gunung-gunung tinggi yang memelihara api di dalam perutnya, dan menjelajahi hutan rimba yang masih dikuasai para raja berhati singa, harimau, onta maupun buaya.

Memang benar dalam peperangan abadi sampai mati ini kita tidak sedang melawan siapa-siapa selain diri kita sendiri. Sudah kuat atau masih lemahkah kita untuk memandang lurus ke depan, dan bukannya mendongak ke atas untuk mengagumi kesuksesan orang-orang mapan, atau menoleh ke samping untuk menggosipkan nasib sial para tetangga, atau menelusuri ke bawah untuk mengasihani kemalangan para tak berpunya, atau menengok ke belakang untuk sibuk bernostalgia mengenangkan kejayaan masa lalu. Lamanya perjalanan tiba ke tujuan memang membosankan kalau kita hanya duduk diam menanti Tuhan mengganti nasib lama kita dengan yang baru. Kebosanan pun bisa membunuh karena berpotensi mengalihkan fokus seseorang kepada hal-hal pengisi waktu luang yang sekilas gemerlapan, dan merayu kita untuk sebentar-sebentar beristirahat. Salah ? Tidak juga. Karena sifat alami manusia adalah fleksibel, rindu kedinamisan dan kebaruan, meski sebatas penampakan luar. Dan disertai dengan sebersit angan-angan, seolah-olah nasib mereka berubah ketika mereka berganti mode pakaian dan tipe ponsel paling mutakhir.

Tiada seorangpun di dunia ini bercita-cita jadi pecundang yang kenyang kekalah.an Tetapi mustahil rasanya semua manusia jadi pemenang. Bukankah karena ada kekalahan jugalah naka kemenangan jadi terasa sangat berarti ? Bukankah karena adanya hitam maka putih jadi nampak berkilauan bahkan dalam temaram ? Dunia sejak zaman baheula selalu terbentuk dan terdiri dari kontradiksi-kontradiksi dua sisi mata uang logam yang tak pernah akur. Mereka ibarat Kurusetra Pandawa-Kurawa, saling berebut untuk tampil ke muka. Dan sama-sama tidak sadar sedang rebutan ( saling berebut ) menanggung konsekuensi. Syukurilah jika kekalahan ternyata masih betah menjadi milik Anda. Karena konsekuensinya ‘cuma’ bekerja dan berikhtiar lebih keras lagi. Siapa bilang konsekuensi pemenang enak-enakan, titik ? Contoh : Kesebelasan Prancis boleh menepuk dada keras-keras tatkala berhasil mengangkat Piala Dunia tahun 1998. Mungkin kemenangan yang tak diramalkan para pengamat sepak bola telah membuat mereka lupa daratan dan lautan. Apa mau dikata, kegemilangan itu tak terulang lagi di dua kali perhelatan Piala Dunia sesudahnya. ( tahun 2002 dan 2010 ). Tim Prancis gagal lolos babak penyisihan. Mereka terpaksa menanggung malu besar-besaran baik di luar, maupun di rumah sendiri.

Maka, ingat dan waspadalah selalu, apapun dan dimanapun posisi Anda saat ini. Entah Anda sedang di atas mengangkat bendera kejayaan, ataupun sedang merangkak bersimbah darah untuk bertahan hidup.

Hidup-mati, susah-senang,menang-kalah sama saja.
Tak ada yang abadi ‘kan ? ( by : dm.swastantika )

STRAIGHT ( UP )

Monday, February 28, 2011

MIMPI JAHANAM

Tidak ada orang tua di belahan manapun di planet ini yang tidak menginginkan anugerah berwujud anak cerdas. Mungkin itulah alasan sebagian orang tua dari kalangan mampu cenderung konsumtif akan segala jenis dan merk vitamin peningkat daya kerja otak, dengan harapan kecerdasan akan muncul kepada anak mereka yang ternyata kurang cerdas. Sementara yang lain mengirim anak-anak mereka untuk les privat ini itu, meski sang anak berulang kali jatuh sakit kelelahan. Mereka beranggapan bahwa kecerdasan identik dengan nilai-nilai indah di bangku sekolah. Sedangkan nilai-nilai indah, apalagi kalau bisa instan lulus sebelum waktunya, adalah jaminan mendapat pekerjaan bermasa depan cerah. Berangkat dari asumsi semua pekerjaan bermasa depan cerah adalah semua pekerjaan yang menghasilkan uang melimpah ruah, terang benderang bahwa para orang tua sudah jengah dengan kondisi ekonomi yang belakangan kian jauh dari sejahtera dan berharap cemas agar anak-anak mereka jangan sampai terjerembab ke liang bencana yang sama.


Di masa sekolah kita dulu, anak-anak ber-IQ ( intelligence quotient ) tinggi menjadi anak emas guru kelas dan kebanggaan orang tuanya. Sekarang trend itu sudah bergeser. Usut punya usut, anak dan atau orang dewasa yang cerdas itu ternyata adalah mereka yang juga ber-EQ ( emotional quotient ) tinggi.
IQ ( kosien kecerdasan ) merupakan potensi genetik yang terbentuk saat lahir dan menjadi mantap pada usia tertentu saat pra-pubertas, dan sesudah itu tidak dapat lagi dikembangkan atau ditingkatkan. Sebaliknya, EQ ( kecerdasan emosi ) bisa dipelajari, dikembangkan dan ditingkatkan pada segala umur ( Shvoong.com ). Kalau IQ mengangkat fungsi pikiran, EQ mengangkat fungsi perasaan. Orang yang ber-EQ tinggi akan berupaya menciptakan keseimbangan dalam dirinya; bisa mengusahakan kebahagian dari dalam dirinya sendiri dan bisa mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat ( Selayang Pandang IQ, EQ dan SQ ; Oleh: Ubaydillah, AN
Jakarta, 19 Mei 2004, Detik Forum ).
Maka, beruntunglah mereka kaum yang tidak cuma punya IQ , namun juga ber-EQ tinggi. Yaitu mereka yang dianugerahi kemampuan dan berhasil mempertemukan antara ujung emosi dengan pangkal akal.
Berangkat dari konklusi bahwa manusia seutuhnya adalah yang mampu menyetarakan baik IQ, EQ sekaligus SQnya, maka tidak apa-apa kan kalau saya tuliskan disini : orang-orang yang mendadak brutal karena hal-hal sepele, remeh dan uncertain adalah belum atau setengah manusia ?

Delusi Sensasi
Gamers online sedunia maya dewasa ini tak ada yang tak kenal dengan Point Blank, Crossfire, SEAL, Perfect World, dlsb., yang merupakan sebagian kecil game online ternama yang digemari anak muda segala usia. Seperti ada kebanggaan tersendiri kala berhasil mengheadshot musuh hingga darahnya muncrat kesana-sini. Bukan hanya kenaikan pangkat ( peringkat ), namun juga gengsi di mata kawan-kawan sebaya. Dunia game online sudah menjelma jadi rumah kedua mereka, para manusia kecil yang butuh tempat untuk membantai mampus rasa kesal dan frustasi bertumpuk akibat omelan guru dan amarah orang tua.
Di jejaring sosial Facebook ada permainan Texas Hold’em Poker dan Glamble Poker yang biasanya dimainkan para neters usia dewasa dan remaja. Permainan ini sempat diidentikkan dengan judi, karena sang pemenang bisa mengantongi chip bernilai M ( miliar )-M an. Anggapan itu jelas keliru karena chip tidak bisa diuangkan dan hanya bisa dipakai untuk bermain dari satu meja ke meja lain yang nilai blind ( taruhan )nya lebih tinggi/ rendah. Permainan ini memungkinkan para pemain untuk bermain satu meja dengan teman-teman FBnya, mendapat kenalan pemoker bule dan mendapat kiriman chip jika mereka kalah taruhan. Meskipun hanya uang-uangan, namun sensasi jadi pecundang , sejam kemudian jadi pemenang, mampu membikin dada deg-degan dan lupa sejenak akan kejaran penagih utang.
Kaum pendidik dan pengamat sosial telah ratusan kali memfatwakan buruknya efek internet. Tapi itu toh belum berhasil menjauhkan kita dari layar monitor. ‘ Kehidupan ‘ lain di sana, di dalamnya lebih mengasyikkan dibanding disini, jagad kasunyatan yang lebih sering pahit. Ada yang bilang itu semua jebakan maya dan sengaja dibuat demi mengisi kantong tebal seseorang. But, who cares ? Sejak kapan dalam sejarah hidup manusia, kegiatan menyenangkan diri sendiri minus cawe-cawe ( ikut campur ) orang ketiga, keempat, kesepuluh, dst. menjadi sesuatu yang dilarang dan dihukum berat ? Misalnya, kasus Ariel Peterpan. Vonis 3,5 tahun untuk seorang maniak seks jauh lebih berat daripada koruptor kelas kebo. Rasa-rasanya tidak dapat ditemukan di belahan Bumi manapun selain Indonesia.
Apabila nafsu ( syahwat, angkara dan riba’ ) mampu memupuk delusi tumbuh tinggi besar dan mendatangkan sensasi luar biasa pada para penderitanya, maka logis kan kalau saya katakan takut dan ketakutan juga sama berbahayanya ? Misalnya, Anda takut dan gilo ( sangat jijik ) sama yang namanya tikus. Dan Anda benci sekali mengapa binatang sekecil itu tega mendatangkan rasa takut setengah mati. Jadi Anda pun jadi tak merasa bersalah jika di kemudian hari, mempersonifikasikan sosok pemakan uang yang bukan haknya alias koruptor, ibarat tikus pula. Toh mereka sama-sama menjijikkannya, pikir Anda. Padahal para koruptor juga punya keluarga dan anak cucu, yang sangat mungkin akan sakit hati kalau tahu ayahanda, ibunda, paman, bibi, kakek atau nenek mereka disamakan dengan tikus. Sakit hati tanpa disertai penerimaan sama dengan menanam bibit dendam. Sedangkan memelihara dendam adalah sama dengan menumpahkan berkilo liter bensin dan menunggu nyala korek api nyasar memberangus semuanya. Coba bayangkan bila suatu hari nanti keluarga para koruptor itu bersatu padu mengumpulkan dana dan berhasil memobilisasi massa untuk balik mendemo kita para penonton, trus mendadak demonya rusuh, lempar-lemparan batu, bakar-bakaran, dll. Aduduh .. !

Mengobati Mimpi
Di suatu pagi secara tak sengaja saya membaca sebuah tinjauan di situs Kompas.com berjudul Ekonomi RI Masuki Pertumbuhan Emas ( 25/02 ). Disitu tertulis kutipas seorang pejabat pemerintah : ”Komoditas mengalami kenaikan harga, demikian juga dengan sektor mining. Peningkatan harga tersebut membuat pasokan uang bertambah. Akibatnya daya beli masyarakat pun ikut naik,” . Oh, alangkah indahnya, batin saya. Tak seorangpun warga di negara manapun enjoy dengan label ‘ prasejahtera ‘, ‘melarat ‘, ‘ terpinggirkan ‘, ‘ marjinal ‘ dan seabrek sebutan mengenaskan lainnya. Manakala pihak-pihak berwenang mengucap optimisme perubahan kesejahteraan, saya yakin rakyat turut senang. Artinya, orang-orang pilihan mereka di pemerintahan ternyata masih punya komitmen untuk mengorganisir segenap kemampuan, sumber daya, modal, ilmu, ( dan mimpi ) hingga titik darah penghabisan guna menegakkan kemakmuran merata.
Mimpi dan bermimpi tidak ada yang melarang. Karena aktifitas ini adalah hak pribadi tiap manusia hidup, dan mungkin perlu dimasukkan dalam salah satu kategori hak asasi manusia untuk menjamin kerahasiaannya ( mimpi indah, mimpi buruk, mimpi lain-lain .. ). Dugaan sementara menyebutkan relasi kuat antara dunia nyata dan mimpi. Perasaan senang, sedih, kecewa, takut , khawatir, bersalah maupun tertekan di masa lalu dan sekarang tidak serta merta hilang bersama hari, bulan dan tahun berganti. Jejak-jejaknya terselip di sela-sela otak dan ia akan menggeliat bangun dalam tidur kita. Mencari pengakuan dan mengingatkan si penderita mimpi akan keberadaannya.
Jika mimpi-mimpi manis adalah pertanda harapan, cita-cita dan keinginan yang belum tercapai, maka mimpi buruk adalah pertanda ketidaknyamanan suasana batin kita sendiri. Tidak nyaman, ganjalan dan kurang sreg artinya diri sejati Anda masih berfungsi baik untuk merasakan sesuatu yang kurang benar pada langkah dan gerak keseharian Anda. Namun sungguh tidak mudah untuk mencari sumber masalah, apalagi membabat habis hingga ke akar-akarnya. Karena tanpa pengakuan telah mencederai kenyamanan batin sendiri, maka selamanya kita hanya terjebak pada lingkaran klise, menyalahkan orang-orang luar atas tragedi yang kita alami.
Jika mimpi buruk adalah jamu mustajab untuk membangunkan si tukang molor dari tidurnya, maka mimpi indah membikin kita betah berkelana di alam tidur selamanya. Tidak usah buru-buru bangun. Tidak usah bekerja keras mencari uang penutup lubang hutang, karena toh sudah bisa mimpi indah.
Iya ? Tidak usah hidup aja sekalian …

MEMBANGUNKAN SI PUTRI SALJU

Friday, December 31, 2010

"Sejarah akan menang. Dunia akan diangkat ke tempat yang lebih baik. Akankah kita bertahan? Itu tergantung pada Anda "  (WikiLeaks Inggris,situs AFP)

Di penghujung tahun ketenangan rimba politik internasional mendadak diceraiberaikan oleh insiden bocornya dokumen-dokumen rahasia Amerika Serikat dan beberapa negara lain termasuk Indonesia,  yang diprakarsai oleh situs Wikileaks mencuat ke publik beberapa waktu yang lalu. Serangan balik bertubi-tubi oleh pihak-pihak yang merasa dirugikan pun membombardir Wikileaks. Mulai dari penutupan domain servernya di Amerika, penutupan sejumlah rekening milik situs tersebut, sampai penangkapan sang juragan ;sekaligus pendiri, Julian Assange ( yang kemudian dibebaskan dengan jaminan lalu dikenakan wajib lapor kemudian dipasangi semacam chip di tubuhnya agar yang berwajib mengetahui kemana ia pergi, siapa yang ditemuinya dan jam berapa ia pergi ke WC ), atas tuduhan pemerkosaan dan pelecehan seksual kepada dua mantan stafnya.  Namun, simpati dan dukungan terhadap lembaga misterius yang bermisi membocorkan informasi rahasia negara demi memerangi korupsi pemerintah dan korporasi tersebut malah mengalir deras. Jumlah pendukung WikiLeaks di Facebook naik dari 500.000 menjadi hampir 960.000 orang hanya dalam waktu tiga hari dari tanggal 3/12 sampai 7/12 lalu, dan sampai tulisan ini dibuat sudah mencapai 1.490.133 orang , dan diperkirakan masih akan merangsek naik.
Bersiap-siaplah, Anak Muda, perang  (ter) baru akan dimulai … katanya sih begitu.

Jangan buru-buru mencurigai kami-kami yang kebetulan berusia muda, sudah dewasa dan atau menjelang sepertiga abad ini. Bukan karena kami maniak setengah mati kerusuhan ala hooligan, gonjang ganjing, chaos, sorak sorai keributan laiknya pekikan sekian desibel dari lantai rumah disko, parade hardcore 17-an atau konser Trio Macan edisi spesial tahun baru. Bukan pula karena kami anggota dari skuad sakit hati yang lapar dan iri hati memandang nanar kepada Anda yang berkantong tebal. Bukan juga karena kami sekelompok preman pengangguran kurang kerjaan, pemabuk dan pezina paruh waktu maupun makhluk-makhluk renta yang menolak jadi dewasa.  Darah muda yang tak kenal kata mengalah adalah bukan 100 %  kesalahan  kami yang secara sah dan meyakinkan telah dengan sengaja memeliharanya. Itu semua adalah semata ‘ kutukan ‘ yang harus kami terima dengan lapang dada karena menjalani nasib menjadi orang muda, dan jangan katakan Anda tidak pernah mengalaminya.

Seperti lautan yang tak pernah bisa diam. Dan udara yang bergerak mengisi ruang-ruang kosong. Juga cahaya yang menembus relung-relung sempit dan kegelapan. Demikianlah, tiada sesuatupun di dunia ini yang mampu menahan, membujuk dan meramalkan ke arah mana alam bergerak. Peradaban manusia memang melaju kencang dan menggila, namun toh manusia belum mampu menciptakan alat pendeteksi kapan gempa bumi akan terjadi. Penguasa dan penentangnya adalah seteru abadi. Seberapa keras dan kejamnya tekanan serta pengawasan, toh penguasa bukanlah paranormal dan ahli spiritual yang mampu membaca pikiran dan menebak reaksi para anak nakal itu selanjutnya. Jikalau Anda para penguasa tidak ingin dianggap super diktator yang anti arif dan bijaksana,  tanggalkanlah sebentar sombongisme jubah kebesaran dan selamilah benak para pembangkang demi mengetahui alasan sekaligus raut muka si akar jahanamnya.

Semasa para nenek moyang kita masih berjaya, mereka membangun dan menegakkan budaya, adat istiadat, peraturan-peraturan, sistem kepercayaan, etika-etika dan norma yang mungkin merupakan hasil kesepakatan bersama ( namun juga tidak menutup kemungkinan semuanya dibuat dan dirancang oleh mereka yang berkuasa dan bermodalkan harta berlebih, alias si nomor satu pada masa itu ). Sebagai dampak dari berjalannya waktu, seperangkat tatanan itu kemudian menjulang ke awang-awang, meninggalkan para anak cucu cicit canggah pendirinya jauh di ketinggian. Melambung nun jauh kesana bagaikan duduk di atas singgasana, sementara mereka yang di bawah tak jemu menatap bercampur iri dengki, merana, tanpa daya ataupun menjilat. Serta merta mendewalah dia tanpa rasa bersalah semena-mena menyogok-nyogok ke atas dan menginjak-injak ke bawah.

Karena kaki sudah lama tidak menjejak tanah, wajarlah jika ia kehilangan sense untuk mendengar bisik-bisik kegelisahan di bawahnya. Kalaulah memang norma, budaya, adat istiadat dan aliran politik dirancang para nenek moyang untuk mengatur hidup agar menjadi lebih baik, lalu mengapa diantara sekian hal tersebut punah merana karena dilupakan, ditinggalkan dan disepelekan ? Penyebabnya bukan 100 % kesalahan era globalisasi, modernisasi, internet, instant messenger, You Tube, dll yang membikin anak-anak kemarin sore gagap, shock lalu bertingkah aneh-aneh. Melainkan karena semua codex tersebut sudah berusia lanjut, mengepala batu karena ngotot mempertahankan kemapanan pribadi, sehingga dengan sendirinya berhenti berpetualang serta berhenti memberikan jawaban, apalagi ketentraman.

Lho, bukannya peraturan dan tata krama ( lama ) diciptakan untuk memberikan ketentraman ? ‘. Lha siapa sih elu kok mau-maunya memberi ketentraman dengan cuma-cuma ?  Bukankah ketentraman adalah buah dari proses panjang, lurus, berliku, berkerikil, menukik tajam, mendaki peluh, tergantung dari jalan mana yang kita pilih untuk meraihnya ? Kita tidak bisa memapankan ketentraman elok rupawan Putri Salju dengan sekedar menaruh rambu-rambu di sepanjang jalan trabasan tikus maupun gang buntu, tanpa mempresentasikan kepada publik dan anak muda tentang alasan dibuatnya rambu-rambu, dan mengapa pula harus diletakkan di situ. Dan yang paling utama, sekuat mana kita berhasil mengukuhkan hukum, norma, etika dan peraturan untuk tegak berdiri dan tak silau terbeli oleh sejumlah kecil dan besar uang.

Kita menginginkan perubahan nasib, betul ?  Kadang kala, angan-angan akan perubahan di masa mendatang terbang secepat kilat mendahului  kemampuan daya upaya tiap-tiap individu itu sendiri untuk berbuat. Kita mengangankan orde reformasi merubah segalanya yang buruk-buruk di orde lampau, termasuk menurunkan harga sembako, bahan bakar, dsb. Kenyataannya ? Yah, you know … Kita mengangankan hujaman bencana alam bertubi-tubi semenjak tahun 2004 yang dimulai dari tsunami Atjeh hingga letusan Bromo di penghujung 2010 ini mampu membuka mata dan mengetuk nurani mereka untuk berhenti berkorupsi, berobral janji dan segera menjual bukti. Apa daya, telenovela kisah sedih kaum tak berpunya belum akan berakhir dan masih kejar tayang. Itulah mengapa perubahan terasa menyakitkan untuk sebagian orang. Karena kita tidak siap menghadapi dan menerima betapa bertolak belakangnya ketentraman versi angan-angan dengan kegetiran realita. So, kesengsaraan dan penderitaan tidak selamanya merupakan hukuman yang diberikan Maha Hidup atas kenakalan kita. Melainkan karena kesalahan cara pandang dan reaksi kita sendiri dalam menyikapi setiap perubahan yang mampir minum di teras rumah kita.

Perubahan apakah yang kita tunggu ? Yaitu perubahan tatanan baru. Tatanan yang bukan sekedar fashion yang sengaja dibuat selalu berubah-ubah ( yang padahal hanya merupakan pengulangan-pengulangan trend di tahun-tahun sebelumnya , 50-an, 60-an, 70-an, dst. ) demi menguntungkan industrialis pakaian jadi. Bukan penampakan luar yang bisa digonta-ganti secepat Superman atau Zorro menukar kostum, demi menciptakan kesan seolah-olah alias pencitraan belaka guna mendongkrak popularitas seleb kemarin sore. Bukan sekedar dogma rekayasa untuk menakut-nakuti penduduk sipil yang tak punya kuasa dan uang untuk menawar maupun menyuap. Bukan konsep idealis nan indah-indah dan tak kenal lelah  merayukan janji-janji kesejahteraan. Bukan mekso mengada-adakan sesuatu yang belum ada. Melainkan gabungan yang indah dari semua yang sudah dan pernah ada. Dari yang lama dilupakan atau sedang digandrungi. Dari yang lama dan yang baru. Dari jauh di masa lalu dan rencana masa depan, bertemu kangen di masa kini.

Meski demikian, di tengah derasnya arus perubahan ada satu hal yang setia untuk tidak berubah. Ia setia tegak diam dan berdiri, tidak terseret tidak juga melawan arus. Ia tidak peduli dikata-katai ketinggalan jaman, kuno maupun anti mainstream. Ia disebut Hidup, yang bersemayam dalam tubuh kita masing-masing. Tak peduli puluhan, ratusan bahkan jutaan kali kita mencederainya dengan perkataan dan perbuatan yang melenceng dari benar, Ia tidak sontak meninggalkan kita mati sendirian. Malahan tak jemu-jemu mengingatkan untuk kembali sadar dan kembali ke jalur, meski  polisi lalu lintas sedang tidak hadir disana.

EMO(NA)SIONALISTIS

Friday, December 3, 2010

TEAR (S)

Tuesday, November 16, 2010

BERKAH MALAPETAKA


                      Hujan air mata nyaris mengalahkan hujan batu kerikil sisa letusan Gunung Merapi, di kala perkembangan terakhir tsunami Kepulauan Mentawai tersiar luas di media. Ada yang kehilangan tempat tinggal dan barang-barang berharga hasil kerja keras selama bertahun-tahun. Ada yang tercenung sendiri meratapi kehilangan suami, istri, anak-anak mereka tercinta. Ada seorang bayi yang terpaksa menjadi yatim piatu karena orang tuanya terseret gelombang. Ada ratusan mereka yang peduli dan prihatin ramai-ramai membuka pos bantuan dan menggalang dana. Ada jutaan pemirsa televisi yang masih peduli turut mengelus dada. Kaum pejabat terbelah dua, sebagian melenggang kangkung ke Tuki dan Jerman seperti hendak lari dari keruwetan negeri, sedangkan lainnya menyalahkan sistem peringatan dini tsunami sudah gagal total, entah karena perasaan bersalah ikutan me’makan’ 5 miliar rupiah yang sudah dikeluarkan untuk mengoperasikan perangkat tersebut, ataukah karena arogansinya telah luluh melihat duka para korban. Sementara sebagian yang lainnya terdiam kaku dan bertanya-tanya, apakah Sang Maha Hidup sudah begitu membenci kita, dan menurunkan bencana yang tiada habisnya.
            Seperti kelahiran bayi, bencana dan kematian memang sudah sering kita alami sepanjang hidup kita. Coba saja Anda hitung sudah berapa kali bencana alam terjadi dimulai sejak tahun pertama kali Anda lahir sampai saat ini. Ratusan, bahkan ribuan ( barang )kali. Artinya, ini adalah fenomena alias kejadian alam biasa. Mungkin lantaran saking terlalu biasanya bagi saya sampai-sampai khilaf bicara dan mengatakan solusi terbaik, tercepat dan termudah untuk mengatasi bencana adalah pindah dari motherland sejauh mungkin. Saya sadar itu mungkin menyakitkan bagi mereka para korban maupun yang sedang terancam bencana berikut. Tapi, empati yang muncul sudah terlampau dalam dan menyakitkan rasanya diam saja tanpa bisa berbuat banyak menolong mereka yang merana. Karena yang saya bisa lakukan adalah dan hanyalah omdo ( omong doang ), nah maka itulah wujud kepedulian saya.

Nerakanya Surga
            Mudah-mudahan Anda belum bosan kalau kembali saya tekankan pada coretan kali ini, bahwa Indonesia kita ini adalah sungguh sebuah syurga. Pemandangannya elok, cuacanya pun bersahabat. Belum lagi tanah suburnya ialah berkah tak ternilai. Kita taruh biji salak, tumbuh pohon salak. Kita semai benih padi, jadilah nasi. Kita buang benih kerusuhan, yang muncul kedamaian. Alam yang memanjakan dan terlalu mencintai kita, kadang membuat manusia terlena dan lupa darimana semua kenikmatan dunia itu berasal. Sama saja dengan seorang anak ABG ndeleleng yang keinginannya selalu dituruti orang tua. Enteng tangannya menunjuk ingin punya ini itu, tanpa mau tahu  lelah ayah ibu membanting tulang di belakangnya.
            Kita adalah generasi yang beruntung, karena tidak sempat mengalami dan menyaksikan kesulitan-kesulitan para penghuni perintis pertama Nusantara ini. Kita tidak pernah tahu bagaimana repotnya hidup di rimba belantara tanpa listrik, jejaring twitter, fesbuk dan ponsel, makan sayuran hutan tanpa MSG, tidur-tidur ayam mewaspadai bermacam-macam bencana alam, berkelahi melawan binatang buas dan penjajah, maupun berjalan kaki berpuluh kilometer untukl bersilaturahmi dengan sanak saudara. Sejuta kemudahan dan keberuntungan itu ampuh membikin kita terlena berleha-leha.
            Jadi, menggelikan juga melihat kejanggalan alamiah sebahagian manusia yang nglali itu tadi tiba-tiba berlomba bersujud di hadapan Tuhannya masing-masing, mengucapkan sebaris permohonan ampun dan selamat dan ramai-ramai menyebarluaskan himbauan agar semua orang juga bertaubat. Dan itulah yang terjadi setiap dan nyaris selalu sesudah bencana alam skala nasional dan mengundang iba hati masyarakat internasional menghantam Nusantara untuk kesekian kalinya. Bukankah Alam, sebagaimana juga Gusti, tidak pernah sare ( bobo’ ) ? Alam mengitari kita tiada lelah tumbuh, bersinergi dan berproses mencari bentuk-bentuknya yang paling ideal, agar terus mampu berfungsi sebagai pelengkap kebutuhan hidup makhluk hidup seisinya. Dan karena pergerakan sesuatu atau sesosok manusia atau seonggok gunung berapi adalah tanda kehidupan, maka kebakaran, banjir, tanah longsor, gempa, tsunami dan wedhus gembel adalah memang bencana, hanya bagi mereka yang kurang ingat dan waspada. Sejatinya kaum yang masih ber-Tuhan musti menerima segala kemungkinan terburuk, karena bumi seperti roda, manusia berbangga jumawa menjadi si nomor satu tetapi mekanisme alam tidak pernah memberitahu tanggal, bulan, jam dan pukul berapa kita akan terlempar ke dalam jurang derita.
           
Ready, Get Set, Go … !
            Kecopetan uang gaji jatah hidup satu bulan, pengambilan paksa sepeda motor pretelan kesayangan karena nekat melaju di jalan raya tengah kota tanpa SIM dan STNK, rumah tempat berteduh hangus terbakar berikut seluruh perabotan yang belum lunas cicilannya, tertangkap basah membawa barang narkoba, ditinggal pergi orang tua ke alam baka, diputus pacar setelah dicurinya hati berikut keperjakaan/ keperawanan anda, serta berderet-deret kesialan lain yang menampakkan gejala entah kapan akan berakhir. Kenyamanan dan kemapanan hidup kadang membuat kita lengah akan eksistensi bencana-bencana kecil yang selalu kerja lembur, mengintai dan siap menerkam sewaktu-waktu.
            Maka janganlah panik dan gagap menghadapi serbuan wabah penyakit trendy bernama depresi, tidak menular namun lebih ganas daripada AIDS dan flu burung. Berlandaskan asas menyelesaikan masalah tanpa masalah lebih cepat lebih baik, maka mereka yang kelelahan memforsir otaknya untuk berpikir melampaui apa yang bisa dikerjakan oleh raganya memilih terjun bebas dari tower berlantai 111, gantung diri atau minum racun. Sementara sebagian streswan dan streswati yang masih sayang nyawa namun ciut nyali menantang depresi melarikan diri kepada pelukan hura-hura narkoba, miras, meja judi dan kekasih nomer dua atau sebelas…
Ibarat anjing menggonggong, kafilah berkepala dingin pun berlalu dan bukannya melempar batu untuk mengusir si pengganggu. Maka, tsunami maupun Merapi aftermath adalah berdiri selekas-lekasnya, menyembuhkan luka hingga tak terasa pedihnya lalu mencuri start dan berlari kembali membangun hari-hari. Dalam teorinya memang mudah, namun kita tidak punya pilihan lain. Marah, menjerit, memaki dan menangis hanya orang sakit jiwa yang berkuasa melarang. Manakala cadangan energi akhirnya terbuang percuma untuk meratapi nasib dan menunggu mukjizat untuk mengentaskan duka lara, ah betapa meruginya ! 

WHATT A .... ?!

Thursday, October 28, 2010

SAKITNYA SAKIT oleh : Dyah Mahasasi Swastantika

Thursday, October 14, 2010


            Bulan suci Ramadhan baru saja berlalu. Setelah para kerabat pulang ke rumah masing-masing, kue Lebaran dan kantong kembali menipis kita kembali kepada kehidupan seperti biasa. Sebagian kecil yang sukses mendapatkan berkah Lailatul Qadr mungkin akan merubah pola pikir dan tindak tanduk tanpa disuruh-suruh, lebih positif dan progresif daripada sebelumnya. Sedangkan sebagian lainnya yang belum mendapat berkah harus sabar menunggu hingga Ramadhan berikutnya. Anyway, yang jelas, semua Muslim kini bebas untuk makan dan minum di siang hari. Bebas dari teriakan protes keroncongan di perut selama sebulan kemarin. Bebas dari rasa sakit yang dengan sengaja disongsong guna meraih kepuasan spiritual dalam rangka mengenal sifat-sifat Dia dan menjadi kekasihNya.
            Sejak kanak-kanak kita sudah diajarkan bahwa sakit dan rasa sakit itu sama sekali tidak menyenangkan. Penderitaan datang daripadanya, dan kita harus menjauhinya sedapat mungkin. Apabila suatu saat terjatuh dan menangis kesakitan maka ayah dan ibu tercinta akan cepat-cepat datang menolong. Bermaksud menenangkan tangisan kita beliau memukul lantai atau batu kerikil yang menyebabkan kita terpelanting. Maka semenjak detik itu juga terbentuk pemahaman dalam benak kita mengenai rasa sakit dan penderitaan,  semuanya disebabkan oleh hal-hal yang berada di luar diri kita. Artinya, kalau kita tersandung batu manakala mata terlalu serius memperhatikan sosok bahenol di seberang jalan, maka si batulah yang salah, ngapain juga dia harus menghalangi jalan kita.
            Bukan maksud saya menyalahkan sikap para orang tua kita. Namun, zaman beliau-beliau lahir dan dibesarkan tidak serumit era cyber goro-goro saat ini. Jadi, kita harus menerima dengan dada lapang apabila ‘menyalahkan si batu’ tadi ternyata menyesatkan perjalanan kita di masa dewasa. Entah sudah berpuluh ribu kali kita harus berjalan, tersandung, terjatuh, terperosok bahkan tenggelam karena silau akan gemerlap surga dunia. Memang akhirnya mau tak mau kita akan bangkit dan berjalan kembali. Namun, sosok tersebut bukanlah seorang suciwan atau suciwati yang akan dengan mudah memaafkan diri sendiri apalagi orang-orang lain. Pada suatu masa ia berjalan ke depan tanpa menoleh ke kanan kiri belakang, namun rasa pahit yang dipelihara membuat ia lagi-lagi tersesat.

Si Tamu Tidak Diundang
            Seorang teman pernah bercerita tentang betapa sakti mandragunanya seorang tamu tak diundang yang mampir ke rumahnya beberapa waktu yang lalu. Pagar rumahnya tinggi meruncing, gembok rangkap 3, alarm anti maling selalu on dan cctv standby di sudut-sudut rumah, toh teman ybs akhirnya menangisi kepergian mobil sedan barunya yang raib digondol si ‘ tamu ‘. ‘ Mungkin si penggondol itu punya aji sirep kali ya ? ‘ keluh teman saya. ‘ Oo ya bisa juga, ‘ timpal saya. ‘ Mungkin dia juga punya ilmu pelet, ilmu meringankan tubuh, ilmu menghilang dan kebal peluru dan kebal polisi, otot kawat, tulang jemuran …’
            Pencuri, apapun jenis kelaminnya, tak peduli dia bercadar ninja atau berkerah putih, entah mencuri hati Anda ataupun uang negara, memang begundal yang layak untuk dimaki-maki. Si tamu tak diundang itu bukan saja mengambil barang kesayangan yang dibeli oleh butir keringat kerja keras. Namun juga memberi kita sebuah hadiah istimewa bernama marah, sedih dan sumpah serapah kebun binatang. Harga barang yang hilang mungkin sangat mahal, namun emosi lebih mahal lagi karena tidak ada obatnya di apotik terdekat.
            Ia membikin otak panas seperti mau meledak. Seperti sebuah luka yang belum lama mengering, tiba-tiba terbuka karena siraman air garam, diiris-iris sembilu untuk kemudian digoreng di wajan nafsu duniawi. Kemudian ia menjelma merasuk ke dalam kerusuhan, tawuran, kekerasan, permusuhan, syak wasangka berskala internasional, nasional, daerah, RT RW maupun rumah tangga. Tumpahan lahar gunung api memang sangat mengerikan, apalagi yang sudah tersimpan begitu lama. Karena ia tidak ragu lagi untuk menerjang membinasakan apa dan siapa saja yang berdiri di depannya. Saat si bijak berusaha membunuh perasaan ini, yang didapat hanyalah menggiring angin. Ibarat suporter bonex, semakin diusir, semakin liar pula serangan baliknya.
            Emosi tidak bisa dienyahkan, kecuali kita menghembuskan nafas terakhir. Hanyalah ingatan dan kewaspadaan kelas tinggi manusialah yang bisa menaklukkannya. Seandainya kita belum cukup punya kemampuan untuk itu, mari membuat sebuah keranjang sampah. Letakkanlah sebentar logika dan berpalinglah pada aktivitas yang menguras isi perasaan Anda. Misalnya, memutar piringan hitam lagu-lagu rohani, menggambar pemandangan, memberi makan ikan-ikan dan burung peliharaan, memainkan senar ukulele atau mengencani seniman/seniwati ganteng/ ayu,  kaya dan terkenal.

Masokis rasa Kismis ?
            Mendengar kata yang satu ini mungkin lamunan Anda akan melayang-layang kepada sesuatu kejanggalan seseorang ketika berkencan dengan kekasihnya, cokot mencokot, cambuk kuda lumping, rantai kapal, dll ( Kalau sudah cukup umur Anda bisa menyaksikan contoh-contohnya di website Hentai ). Konon kabarnya, sindrom ini menjangkiti mereka-mereka yang mengalami depresi akibat pengalaman kontak fisik yang mengerikan di usia dini. Mereka, kaum masokis ini, diberi berkah berupa semacam perasaan bahagia melimpah ruah di kala berhasil menyakiti dirinya sendiri baik physically maupuan sexually.  Namun pada perkembangannya, masokis bukan hanya menjadi momok peraduan hasrat Anda. Ia, tanpa kita sadari, ternyata sudah melebarkan sayapnya ke dalam segala macam aspek kehidupan sosial kemasyarakatan manusia.
            Apabila tujuan hidup manusia di dunia ini adalah untuk mencari ketentraman ( yang entah betah bersembunyi di relung hati sebelah mana ), dan bukan hanya sekedar kesejahteraan materi belaka, maka sudah seharusnyalah kita mencari dimana ia berada. Namun apa daya, semakin dikejar semakin menjauhlah dia. Jangankan untuk mencari, ada juga sebagian kaum yang kurang beruntung dalam mendefinisikan makna di balik ketentraman. Telah dicari ke ujung dunia, bahkan di sela-sela tumpukan jerami, tiada jua bersua. Manakala kita sudah lelah dan kehabisan tenaga untuk meneriaki dan menyalahkan dunia atas kegagalan mendapatkan ketentraman sejati, marilah berhenti berlari dan mengambil nafas panjang sejenak.
            Tanpa kita sadari, entah sudah puluhan, ratusan, jutaan kali kita menyakiti hati sendiri dalam satu hari, satu tahun, dua dasawarsa maupun seumur hidup kita. Kita tahu bahwa berkata bohong itu salah, namun di masa sekolah dasar entah sudah berapa kali kita membohongi orang tua guna mencari alasan pulang terlambat. Kita tahu menyiksa binatang itu dilarang agama, namun kita berseru kegirangan saat jangkrik aduan kita menang. Kita tahu mengutil itu dipotong tangan hukumannya, namun sembari berlagak klepto kita sering merasa tak berdosa saat mengutil di swalayan terdekat. Kita tahu selingkuh itu sadis, namun lagu-lagu cinta bertemakan salah satu penyakit cinta kronis manusia sejak zaman sepur lempung itu nyaris selalu disukai anak-anak muda. Kita tahu merokok itu tidak baik untuk kesehatan, tapi kalau pabrik rokok ditutup semua lalu kemanakah para pekerjanya dan petani tembakau mencari makan ? Kita tahu korupsi itu merugikan banyak sekali orang, namun toh masih ada juga kaum sesat yang membanggakan hasil kekayaan yang diperoleh berkat tipu muslihat. Kita tahu pembantaian massal itu bukan saja keji - hati pelakunya mungkin terbuat dari batu kali, namun tahun demi tahun berjalan tanpa secuil penjelasan pun tentang tragedi A, B, G, F, S dan Z.
            Anda boleh-boleh saja menghakimi gerombolan pecinta tatoisme dan piercingisme sebagai masokis maniak dan kurang normal. Tapi toh hanya 0,99 % dari mereka tidak siap dengan resiko sakit dan tjap buruk dari para tetangga. Hanya mereka yang kurang makan bangku sekolahan tidak dapat menjelaskan arti di balik sebuah tato di hidung dan tindik di tenggorokan. Mengapa harus oknum-oknum misterius menghabisi nyawa mereka satu per satu di era 1980-an ? Toh mereka cuma mengekspresikan rasa sakitnya dan berjuang sekuat tenaga untuk menempatkannya setara selilit kismis di sela-sela gigi,  tak pernah berniat menyakiti orang lain kecuali tubuh milik pribadi.
Idealnya sih, menjalani dan menghabiskan waktu menghirup udara di Bumi ini dengan normal-normal saja, tanpa perlu harakiri menjemput rasa sakit di dalam hati maupun di sekujur badan. Akan tetapi, hidup ini pun menyuguhkan sekian banyak pilihan, pula sekian ribu resiko yang harus ditanggung penumpang sendiri-sendiri. Selanjutnya terserah Anda …
           

           

           
           
           

THE BLACKNYAN TREE

Thursday, October 7, 2010

PERTEMUAN

Tuesday, September 7, 2010


Saya pegang ajaran Multatuli bahwa kewajiban manusia adalah menjadi manusia
( Pramudya Ananta Toer )

            Saat manusia mini berbentuk jabang bayi dipaksa keluar dari rahim hangat ibundanya, ia menangis tersedu-sedu. Selama ini kita mengira dia menangis karena kedinginan, atau terkejut matanya mendadak silau oleh cahaya. Kepercayaan tradisional Jawa mengatakan, bayi yang baru lahir menangis karena harus berpisah dengan ‘ saudara-saudaranya ‘, kakang ( kakak ) kawah ( ketuban ), adhi ( adik ) ari-ari ( plasenta ) dan sedulur papat ( saudara empat lainnya, yaitu darah dan tali pusar ), yang selama 9 bulan sudah setia menemaninya. Dan karenanya jabang bayi sadar musti menjalani hidup sendiri saja.
            Seiring dengan berjalannya waktu, manusia kecil itu pun mengetahui, ternyata ia tidak benar-benar sendiri di dunia ini. Ada keluarga, teman-teman, saudara-saudara, kolega, tetangga-tetangga, dan masih banyak lagi, tergantung kepada seberapa jauh dia menceburkan diri ke dalam jejaring pergaulan sosial. Di tengah-tengah mereka ia mendapatkan kasih sayang, perhatian, nasihat dan saran-saran, serta uang jajan. Semua tercipta dan tersedia begitu sempurna,  untuk dirinya seorang. Lama-lama tubuh yang dulu mungil kini tinggi menjulang. Dan tiba saatnya ia melangkahkan kaki keluar rumah.
            Ketika anak-anak tumbuh dewasa dan mengenal dunia luar, maka sadarlah ia hanya sebiji kuku hitam. Alam raya ternyata menawarkan kebebasan untuk memilih antara jalan gelap dan terang. Namun, karena ia anak kemarin sore yang imut dan lugu, maka sebersit keraguan merongrong dirinya. Jalan mana yang musti dipilih ? Jalan terang yang sesuai dengan norma-norma dan nasihat orang tua, ataukah jalan gelap yang ( mungkin ) menyimpan misteri dan maksiat ?  
            Di sekelilingnya ia dikepung teman sebaya yang sama-sama kebingungan, dan juga ketakutan. Takut tidak memperoleh pengakuan atas keberadaan mereka sebagai manusia setengah anak-anak, ataukah manusia setengah dewasa, atau malah setengah manusia sama sekali. Sekelompok ABG gagal mengatasi ketakutannya sendiri dan imbas langsungnya adalah kehilangan keyakinan atas kemampuannya untuk meraih pengakuan dari teman sekelas, teman satu geng dan pacar teman. Mereka yang meratapi kegagalannya menanam, memupuk dan bahkan berburu untuk menemukan bibit pohon jati diri untuk tumbuh dewasa akhirnya memilih jalan pintas destruktif berupa narkobis, balapan liar, tawuran massal, penggerebekan ini itu, kalau tidak membunuhi sesama makhluk hidup yang tak berbicara dengan bahasa manusia, misalnya hutan hujan atau lumba-lumba Kalderon ( seperti yang dilakukan ABG laki-laki setiap tahun di Denmark dalam rangka mendemonstrasikan kejantanan mereka ).
           
Us ( are not ) Vs Them
Mantan presiden RI pertama, Soekarno, tercatat dalam sejarah dunia sebagai pemimpin pemberani meskipun ngluruk tanpo bolo ( menyerang sendirian ), saat beliau menyatakan Indonesia keluar dari keanggotaan PBB pada 7 Januari 1965.  Pemerintah Soekarno menganggap PBB telah menjadi boneka Imperialisme dan neo-kolonialisme Amerika dan sekutunya.  Malaysia diterima sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, yang mana adalah posisi incaran hampir setiap negara di dunia hingga saat ini. Bung Karno berasumsi bahwa Malaysia adalah negara boneka bikinan negara-negara Barat yang hendak memecah belah persatuan orang-orang Asia Tenggara, untuk kemudian menguasai tanah milik kaum bumiputra dan mengambil alih kekayaan alamnya. Bung Karno berkata, "PBB dalam susunannya yang sekarang tidak mungkin dipertahankan lagi. Dengan menguntungkan Taiwan dan merugikan RRC (waktu itu Cina diwakili oleh Taiwan), menguntungkan Israel dan merugikan negara-negara Arab, PBB nyata-nyata menguntungkan imperialisme dan merugikan kemerdekaan bangsa-bangsa.” Tapi itu kan dulu …
Entah karena aus termakan waktu atau mungkin ada faktor x lain, keberanian setinggi langit itu menurun sedikit demi sedikit tergerus waktu. Mungkin akan lenyap sama sekali sebelum salah satu pemimpin dan calon pemimpin kita tertular ‘ virus Soekarno ‘ yang pernah sangat menegakkan bulu kuduk pemimpin-pemimpin negara Barat. Jangan kita salah mempersepsikan keberanian dengan bondo ( modal ) nekat, haus darah dan kekerasan, karena waktu berjalan ke depan, wajah dunia berubah dan kalau untuk sekedar main tembak-tembakan bisa kita main airsoft gun atau Point Blank.
Dalam bidang pelestarian lingkungan hidup keberanian adalah menindak tegas industri milik pengusaha lokal maupun  asing yang terbukti mencemari lingkungan dan melanggar AMDAL. Dalam bidang industri, keberanian adalah membela nasib kaum pekerja di industri milik investor asing, diantaranya adalah dengan memastikan apakah mereka menerima upah sesuai UU atau malah kurang. Dalam bidang hukum, keberanian adalah menghukum seberat-beratnya para koruptor sebelum tiang devisa, APBN, APBD dan sejenisnya rontok dimakan rayap.
Maka, bukanlah semata-mata kesalahan negara tetangga melecehkan eksistensi kita. Mungkin dalam benak mereka berpikir, Indonesia nyaris abai terhadap nasib pekerja migran, apalagi kepada hal-hal besar lainnya seperti batas wilayah, sumber daya alam, penegakan hukum dll. Jadi tidak masalah semisal mereka hendak mencuri-curi ikan di laut kita sedikit-sedikit, atau bermain tangan sedikit kasar kepada pekerja rumah tangga yang berasal dari Indonesia, atau menjiplak sedikit dari karya-karya peninggalan leluhur kita yang sudah terlupakan. Ingat, maling amatiran tidak memulai aksi perdana mereka di tempat-tempat berkeamanan maksimum seperti bank maupun toko perhiasan, melainkan barang-barang dan tempat sepele yang nyaris luput dari perhatian misalnya jemuran, sandal dan kotak amal di tempat ibadah.  Mencuri memang haram hukumnya. Tapi  lebih celaka lagi tuan rumah yang sering tidak ingat dan waspada.

Tidak Hilang, Tetapi Belum Bertemu
            Televisi, radio dan internet sering dipersalahkan oleh kaum pendidik dan orang tua atas perilaku menyimpang anak-anak dan remaja. Mereka bilang betapa liarnya anak-anak zaman sekarang dibandingkan zaman mereka dulu. Dan betapa sudah bergesernya nilai-nilai kesopanan dan tata krama dari perilaku mereka. Sangat tidak mencerminkan sosok manusia Indonesia yang berbudaya, padahal mereka adalah generasi penerus bangsa. ( Nggak gitu-gitu amat kali, Pak, Bu. Coba bayangkan kalau Mark Zuckerberg, perancang Facebook itu ternyata lahir 10-20 tahun lebih awal, yaitu di masa Anda-anda jadi ABG. Apa iya masih terkendalikah kelakuan Anda ? ).
            Pertanyaannya sekarang orang Indonesia yang benar tindak tanduknya harus bagaimana ? Budaya Indonesia itu yang seperti apa sih ? Lalu, mengapa bahasa ibu kita berbeda ? Leluhur orang Indonesia datang dari mana ? Apa ajaran peninggalan leluhur kita ? Kira-kira bagaimana wujud kepulauan ini pada zaman dahulu kala, zaman sebelum berdirinya kerajaan pertama, Kutai dan Tarumanegara ? Apa benar penghuninya adalah meganthropus paleojavanicus, pithecantropus erectus, homo soloensis dan homo wajakensis ? Kalau memang ya jawabannya, pantaslah susah diatur orang-orang Indonesia ini. Lha wong keturunan munyuk …
            See, betapa tipisnya dinding pembatas antara manusia, yang belum berhasil mengenali dan menemui jati dirinya, dengan binatang. Anda boleh berlega hati karena volume otak bintang lebih kecil daripada manusia, sehingga mereka tidak punya alternatif teknis untuk bertindak selain daripada dorongan nalurinya. Sedangkan Anda manusia punya dua pilihan, yang mana satu sama lain bertentangan (  ya atau tidak, jujur atau bohong, dst. ) dan masing-masing meminta konsekuensi yang berbeda pula.  Orang jujur memang tidak selalu mujur. Namun kedok si pembohong lama-lama menumpuk sehingga ia lama-lama lupa bagaimana wajah aslinya. Anda boleh mengatakan si tetangga itu Malingsia, namun toh mereka  ‘ jujur ‘ menuliskan sejarah kelam yang pernah terjadi disana, antara lain kerusuhan rasial 13 Mei 1969, berikut faktor pemicu, jumlah korban jiwa dan harta benda, dan pihak mana saja yang terlibat. Sedangkan hingga 10 tahun ini kita masih belum bisa mengakses secara terperinci topik Insiden Mei 1998 dari Wikipedia. Di situs ensiklopedia bebas itu tertulis ‘ Masalah sensitif tanpa referensi ‘ .
             Mengapa harus kita menyalahkan anak-anak remaja atas hilangnya identitas kebangsaan mereka, sedangkan kita kaum terdahulu belum juga bisa menemukan, bahkan mencari identitas kebangsaan itu yang seperti apa wujud dan baunya ?  Kita terlalu takut untuk berhenti berbohong, dan mengakui kalau kita sudah berbohong.    Topeng kewibawaan, norma-norma dan doktrin-doktrin tiada jemu-jemunya kita pasang sebagai perisai agar konsekuensi kejujuran tidak bisa melukai kita. Ok, dalih keamanan dan stabilitas nasional adalah argumen paling masuk akal untuk menjawab ketidakperluan pengungkapan kebohongan publik dan sejarah , dan dikhawatirkan memicu gonjang ganjing nasional suatu masa nanti. Jadi mau berbohong sampai mati, begitu ?
            Ajaran Islam mengatakan, di hari Idul Fitri manusia akan terlahir kembali, suci seperti bayi karena sudah di ‘putihkan’ dari dosa-dosa selama hidup di Bumi. Nah lalu siapa yang bisa mengatakan perbuatan A itu berpahala/ benar dan perbuatan B itu berdosa/ salah ? Kitab suci Al Qur’an tidak akan bisa mengatakan apa-apa kecuali kita yang bersuara membaca isinya, dan memahami maknamya. Dalam artian, pertama-tama adalah suara hati Andalah yang akan menuntun jiwa berketurunan kera itu untuk mengerti dan mengakui kebenaran dan kesalahan. Untuk melepas kedok dan kemudian membukakan mata untuk melihat cahaya. Untuk berjalan dalam terang dan meraih cita-cita. Untuk akhirnya menemui siapa Anda-anda sesungguhnya.
           
            Selamat Mencari !

PILIHAN

Thursday, August 12, 2010

PERTANYAAN-PERTANYAAN PASCA LIBERTY, EQUALITY,FRATERNI TY

Monday, August 2, 2010

14 Juli lalu genap 211 tahun sudah Revolusi Prancis diperingati sebagai tonggak yang menginspirasi perjuangan melawan imperialisme di benua Amerika, Afrika dan Asia. Pekik Liberty, Equality, Fratenity ( Kemerdekaan, Kesetaraan, Persaudaraan ) telah dua abad lebih menggema hingga ke pelosok muka bumi. Harapan untuk perubahan social, ekonomi, budaya dan segala aspek kehidupan tumbuh dewasa di belakangnya. Bersamaan dengan itu, adalah teguran dan kritikan penuh kasih sayang dari mereka yang masih setia kepada para penguasa dunia yang sedang terlena dalam pelukan harta untuk mengingat kembali komitmen menegakkan kebenaran dan kesejahteraan seluruh warga.

Bukan berarti mereka masih menginginkan revolusi, kata terlarang yang membikin semua diktator lalim merinding, berdarah-darah membasahi ibu pertiwi masing-masing. Namun kelaparan akibat menurunnya daya beli masyarakat, faktor pemicu gegap gempita Prancis ratusan tahun lampau, masih dijumpai beberapa tempat. Pula, masih ada bom-bom meledak atas nama agama, peluru berdesingan mencacatkan anak-anak tanpa dosa dan agresi militer untuk menyelubungi persaingan tidak sehat memperebutkan sumber daya alam milik tetangga. Sementara para pengusaha berpikir keras bagaimana meraup untung banyak dengan sedikit pengeluaran, para pekerja yang lelah memeras keringat bergantian menuntut perbaikan upah. Apakah memang sudah gawan bayi ataukah takdir, bahwa perjuangan menegakkan kebenaran tiada akan pernah berakhir ?

Kemerdekaan
Kemerdekaan sebenarnya merupakan istilah yang di ‘hiperbola’kan dari kebebasan. Anak buyutnya kebebasan, kurang lebih. Sedangkan kebebasan sendiri mengandung arti semacam perasaan lega, lepas, karena hilangnya tekanan, belenggu, ancaman dan terror. Semacam perasaan ingin terbang melayang di hampa udara. Seupama layang-layang putus, berputar-putar kemana tiupan angin membawa. Ibarat seekor kuda, berlari kemana kakinya ingin pergi. Layaknya ABG, berbuat dan berucap sesuai kehendak hati.

Semua manusia pada awalnya lahir bersama perasaan itu. Manusia lahir tanpa membawa apa-apa, termasuk pakaian yang melekat di badan. Tidak juga beban dosa maupun masalah para orang tua. Suci, murni, polos, kadang sedikit naïf. Keluarga, masyarakat dan Negara bertanggung jawab memberikan pengetahuan kepada si manusia baru bagaimana menjaga, mengarahkan dan menggunakan kebebasannya. Namun di tengah jalan dan di suatu saat dan tempat, mereka pernah mengalami saat-saat dimana kebebasannya terampas dan harga diri sebagai manusia pun terhempas. Dan hanya sedikit sekali diantara mereka yang beruntung menyadari bahwa keterampasan serta keterhempasan itu penyebabnya 90% berasal dari kegagalan di dalam dirinya untuk mengambil alih kendali dan mempertahankan kebebasan.

Mengapa demikian ?

Manusia memang keluar dari rahim bunda bersama kebebasan, hak asasi, absolute freedom, dsb,dst… dan sendirian ( kecuali anak kembar 2, 3, 4, dll. ). Semasa kanak-kanak adalah bapak, ibu, saudara-saudara, kakek, nenek, paman dan bibi menjadi teman yang mengasuh, memberi makan, nasihat, menyekolahkan dan memberi uang jajan. Lalu tibalah masa ketika ia harus melangkahkan kaki ke luar rumah dan mendapatkan kebebasannya, adalah ia dan hanya dia seorang yang berhak dan bertanggung jawab memutuskan segalanya. Kadang-kadang rasa ingin tahu yang terlampau liar memaksanya menyerah mencoba melakukan hal-hal yang dilarang oleh hukum, ajaran agama maupun norma-norma sosial. Saat konsekuensi menagih pembayaran berupa kebebasan yang dimilikinya, barulah ia menyesal mengapa terlambat memutar haluan.

Warga pribumi Indonesia sudah sejak ribuan tahun lampau menjadi pusat pelampiasan iri hati warga belahan dunia lain. Betapa tidak, warga pribumi hidup berkecukupan sandang, pangan, papan, gemah ripah loh jinawi. Malangnya, warga pribumi tidak tahu menahu tentang potensi yang terpendam di dalam tanah dan laut. Sedangkan para raja penguasa tanah pribumi pada saat itu terlampau sibuk berperang memperluas wilayah kekuasaan, bersengketa dengan kerabat-kerabat yang tergiur empuknya kursi istana dan mencari selir-selir baru. Para pedagang, tamu kerajaan yang berkulit putih dan bermata biru melihatnya sebagai kelemahan. Dan karena mereka pada saat itu juga sangat membutuhkan hasil bumi dan sumber daya alam lain yang murah, cepat dan tepat untuk mencukupi kebutuhan dalam negerinya sendiri, maka terjadilah apa yang kita sebut sekarang sebagai penjajahan alias imperialisme.

350 tahun ? Yah, bukannya saya mau menjelek-jelekkan nenek moyang kita yang sudah beristirahat dengan tenang dan merdeka di ‘ dunia ‘nya sendiri, namun, seperti yang sudah saya kemukakan di tulisan terdahulu, keadaan alam yang kaya raya kadang terlampau memanjakan sehingga manusia cenderung lekas berpuas diri dan malas mencari pengetahuan lebih di luar lingkungan yang serba enak. Para pendahulu kita terlambat menyadari bahwa mereka tidak hidup sendirian di luasnya Nusantara. Mereka berjuang sendiri-sendiri bersama golongannya sendiri serta belum memiliki pengetahuan tentang teknologi persenjataan terbaru. Mengira bahwa keris sudah cukup sakti mandraguna, satu demi satu pahlawan lokal menemui ajal di penghujung bedil.

Kesetaraan

Semua manusia, kecuali mereka yang kebetulan mendapat anugerah terselubung berupa cacat fisik, dilahirkan dengan satu kepala, dua tangan dan kaki, dua mata, satu hidung dan satu mulut. Sepintas terlihat sama. Selain nama, apa yang membuat mereka berbeda dan dibedakan antara satu dengan lainnya ? Warna dan jenis rambut ( hitam lurus atau kribo coklat ) ? Warna mata ( biru, hijau, coklat, hitam ) ? Warna kulit ( hitam, coklat, putih, kuning, merah )? Golongan ( atas, menengah, bawah ) ? Asal usul/ leluhur ( bangsawan, rakyat jelata, blasteran antara bangsawan dan rakyat jelata ) ? Pekerjaan ( direktur, manajer, karyawan ) ? Jenis kelamin ( laki-laki, perempuan, setengah laki-laki dan atau setengah perempuan ) ? Umur ( anak-anak, dewasa, lansia ) ? Jumlah materi ( kaya, miskin, setengah miskin ) ? Kepercayaan ( Anda sebut sendiri lah please ) ?

Sejumlah perbedaan tersebut ternyata melatar belakangi sebagian kecil orang untuk merasa lebih, yakin bahwa dirinya/ mereka adalah numero uno, the chosen one, satria pinilih. Dan oleh karenanya merasa berhak untuk memberikan perlakuan tak sederajat kepada golongan lain yang tidak seperti dirinya. Anda bisa mengatakan penindasan sudah jadi sejarah yang penuh sarang laba-laba. Namun di beberapa tempat masih dapat dengan mudah kita temui sekelompok manusia yang masih harus memeras peluh untuk mendapat pengakuan atas keberadaannya dan kesamaan hak untuk mempertahankan hidup.

Apa sih kira-kira yang terlintas di benak kita ketika melihat, menemui atau mengenal seseorang yang berbeda fisik dan non fisik dengan kita ? Ah, jangan-jangan dia maling. Jangan-jangan dia maniak. Jangan-jangan dia pengintip. Jangan-jangan… jangan-jangan …Takut kah ? Itu jelas sekali terang benderang. Entah siapa yang memulai, namun paranoia terhadap sesuatu yang asing, lain, aneh dan tidak mainstream sudah ditanamkan sejak masa ingusan kakek nenek kita. Tujuan awalnya sih sebenarnya untuk menumbuhkan pertahanan swadaya seorang anak kala ia harus menempuh perjalanan seorang diri. Dilemanya, sangat jarang ditemui orang-orang yang mampu menganalisa masalah dan mengambil keputusan secepat kilat namun cermat dalam situasi genting. Yang diingat dan terngiang senantiasa hanyalah doktrin-doktrin sempit semisal : ‘ hitam jahat ‘, ‘ merah liar ‘, ‘ putih malaikat ‘. Sehingga keminderan individu berbenturan dengan ketidakpercayaan berlebih terhadap liyan sukses menumbuhkembangkan ledakan rasisme, fasisme, terorisme, seniorisme serta bullyingisme.

Persaudaraan

Beda Bapak beda Ibu tetapi bersaudara ? Kok bisa ? Tentu bisa. Buktinya frase’ persaudaraan ‘, ‘ ikatan ‘, ‘ persatuan ‘ dan ‘ perkumpulan ‘ dan sejenisnya sebagai bagian nama organisasi, yayasan, lembaga, perkumpulan, perserikatan yang dibentuk berdasarkan kesamaan minat/ hobi, tujuan dan asal muasal. Diantaranya meliputi kesamaan perguruan tinggi, ketrampilan kerja, etika, etnisitas, agama, politik, kontribusi amal dan sosial, nilai-nilai tradisional, asetisme, pelayanan publik, seni budaya, garis keturunan/ marga dan bahkan criminal. Artinya, sekumpulan orang tersebut tidak mendadak sontak bersedia menyatakan diri sebagai saudara satu sama lain tanpa alasan, yaitu kesamaan kepentingan dan nasib.

Di masa perjuangan kemerdekaan RI, beberapa kelompok generasi muda yaitu Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon berhasil menyatukan visi dan mendeklarasikan Sumpah Pemuda, dan dilestarikan hingga sekarang sebagai simbol pernyataan persatuan seluruh rakyat Indonesia pada saat itu. 5 tahun kemudian setelah RI memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, persatuan itu sedikit demi sedikit terkikis akibat meletusnya pemberontakan bersenjata di beberapa daerah. Sebut saja pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) ( 23 Januari 1950, Bandung ), pemberontakan Andi Azis ( 5 April 1950, Makassar ), pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) ( 25 April 1950, Maluku ), pemberontakan PRRI/Permesta ( 15 Februari 1958, Sumatra Barat dan Sulawesi Utara ), pemberontakan DI/ TII ( 7 Agustus 1949-3 Februari 1965, tersebar di Jawa Barat, Aceh, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan ).

Sesudah menelaah beberapa sumber saya simpulkan ada satu factor tunggal yang memicu radikalisme daerah tersebut. Yaitu, tuntutan agar otonomi daerah segera direalisasikan pemerintah saat itu. Agar hasil daerah dikembalikan lagi ke daerah, karena sebelumnya terjadinya kesepakatan hasil bumi daerah dikuasai secara penuh oleh pemerintah pusat.
Perjuangan itu dilakukan sebagai bentuk pengambilan kembali hak-hak daerah. Dikatakan oleh Bakhtiar Ngunguah ( salah satu mantan anggota PRRI Sumatra Barat yang masih hidup ) bahwa hasil daerah yang diharapkan kembali lagi ke daerah antara lain beberapa hasil bumi seperti terung, sayur mayur, tambang emas, tambang tembaga dan hasil lainnya. "Jika masalah tersebut diselesaikan dan hasil tersebut dikembalikan, kami akan akan kembali ke pangkuan ibu pertiwi yang artinya pusat tidak menang dan daerah tidak kalah, “ ( situs Padang Today, 15 Agustus 2009 ).

Manakala cita-cita sudah tergenggam erat di tangan, kita kadang terlena dan melupakan sekeliling. Dunia milik kita, yang lain penumpang gelap, begitulah kira-kira. Status bangsa terjajah ternyata ampuh menumbuhkan keinginan untuk bersatu dengan sesama warga, dengan tak memandang suku, ras, golongan maupun agama. Jadi, apakah wajib menyandang status bangsa budak belian selamanya agar tak ada perpecahan diantara kita ? Sebuah surat kabar ibu kota ternama baru-baru ini menurunkan sebuah tulisan mengenai kebiasaan-kebiasaan buruk manusia. Berada di urutan pertama adalah gossip/ menggosip. Ironisnya, kebiasaan membicarakan keburukan orang lain itu ternyata terbukti sah dan meyakinkan mampu mendekatkan hubungan dua pihak yang awalnya tak saling kenal. Persaudaraan, apakah harus diciptakan dengan mengada-adakan kambing hitam ?

Pernahkah Anda memikirkan kemungkinan Sang Maha Hidup sengaja menciptakan manusia dengan ketidaksempurnaannya agar mereka belajar, berpikir dan berbuat untuk menjadi sempurna ?

Kebenaran mutlak ? Alam bakalah tempatnya. Namun, selagi masih bernafas mengapa tidak kita berusaha semampunya untuk menjadi benar ?

AN NATURAL SELECTION

Monday, June 28, 2010

BELENGGU CITRA

Bagi Anda yang tidak suka sepak bola, tabahkanlah hati sepanjang bulan Juni hingga awal Juli mendatang, apabila terpaksa melewatkan siaran berita, pentas musik menye-menye ataupun sinetron penguras air mata. Ada yang mengidentikkan rimba persepakbolaan berikut ajang Piala Dunia kali ini dengan kapitalisme ( karena lingkaran setannya adalah pemain bagus, klub menangan, banyak penonton dan tentu saja banyak uang ), selebritas ( karena mayoritas kekasih para pemain sepak bola adalah model dan seleb hot di negaranya ), tragedi ( karena kesebelasan-kesebelasan besar, diantaranya Prancis dan Italy harus angkat koper pagi-pagi sekali. Kabar terakhir disusul Inggris ), gengsi ( jelas, apalagi jika pemenangnya nanti adalah kesebelasan Negara berkembang yang tidak punya gigi sama sekali di kompetisi besar lain seperti WTO atau G-8 ). But, whatever, it’s just a game to?

Kita tidak perlu kecewa karena kesebelasan Indonesia belum berhasil menembus tempat terhormat sebagai finalisnya, atau iri hati menyaksikan perayaan di kesebelasan Negara pemenang. ‘Kan Liga Indonesia yang barusan lewat juga menyuguhkan pemandangan yang mirip-mirip. Seandainya Anda berada di kota Malang di awal Juni lalu tentu akan ikut terpana sekaligus bangga dapat ambil bagian dalam selebrasi kemenangan dan keberhasilan Arema, klub pujaan tua muda, dewasa anak-anak, laki-laki perempuan, pribumi pendatang, pada Liga Indonesia tahun ini. Adalah konvoi sepeda motor, karnaval dan pentas musik rakyat yang memacetkan jalan-jalan utama hingga tiga hari lamanya, kurang lebih tiga minggu sebelum penduduk Brasil, Slovakia dan Korea Selatan bersuka ria menyambut keberhasilan kesebelasan mereka lolos ke babak 16 besar Piala Dunia.

Kota Malang di masa kolonial terkenal dengan sebutan Paris Van East Java, karena kemolekan alam, tata kota dan arsitekturnya. Namun generasi yang lahir belakangan ragu-ragu atas kesahihan julukan itu. Mereka lebih mengenal Malang sebagai kota mikrolet ( karena menjamurnya jumlah angkot jenis itu di setiap jalur ), kota mall dan ruko ( karena di awal 2000 mall dan ruko tiba-tiba muncul mak bedunduk menggantikan ruang terbuka hijau seperti bangkit dari kubur ), kota banjir ( karena jalan-jalan protokol selalu tergenang air di kala hujan turun lebat ) dan kota panas ( jam 9 pagi panasnya seperti jam 12 siang ). Mustahil ‘kan, bangga menjadi warga sebuah kota dengan julukan-julukan semacam ini.

Kemenangan klub yang didirikan Acub Zaenal dan Dirk Sutrisno pada 11 Agustus 1987 itu membuat mereka tidak menyesal lahir dan dibesarkan di kota Malang. Dan akhirnya bisa menegakkan kepala meski bukan termasuk warga kota metropolis yang berkulit putih, pergi kemana-mana naik mobil mewah, gaya bicara dan pakaian modisnya sering tampil di televisi. Mendadak membangkitkan kembali perasaan bangga, besar dan percaya diri di dalam benak mereka, yang sudah puluhan tahun tenggelam, atau bahkan belum pernah lahir sama sekali.
Hiperbola ? Apa sekarang yang bisa kita banggakan dalam nama Indonesia ? Bukannya menafikan arti kecintaan pada tanah air dan bangsa. Haruskah kita berbangga hati atas peringkat 3 besar korupsi se-Asia, 10 besar sedunia, tercepat dalam menggersangkan hutan, keselamatan kerja buruh migrant dicuekin, dan lain-lain, dan lain sebagainya, dan masih banyak lagi. Seperti kain lap dilemparkan di gudang, terkulai bersama debu dan kotoran di tubuhnya. Anda para orang tua bernasib baik karena tidak lama lagi meninggalkan dunia fana berikut pahit getirnya. Namun, betapa malang para pemuda, tunas kelapa dan taruna yang pasrah dan menyerah kepada ketidakberuntungan dan kebelumberhasilan di usia belia. Apalah artinya darah muda tanpa semangat, kebanggaan dan keinginan membangun masa depan ?

Bangga Atas Nama Citra
Citra yang saya maksud disini bukan merk sejenis alat kosmetika. Bukan pula nama seorang gadis jelita. Penampakan, atau kelihatannya, begitulah makna citra, kurang lebih.. Sesuatu yang kelihatan dan ingin ditunjukkan di luar. Membuat penafsiran dan opini merata mengenai sesuatu, atau seseorang. Supaya orang menyukai, menghormati, mengagumi, menyanjung atau bahkan membenci.. Mutlak dibutuhkan orang-orang yang sedang berusaha membangun kepercayaan publik, klien, konsumen, investor maupun calon mertua. Tidak itu saja, dalam kehidupan sehari-hari orang masih membutuhkan citra guna melindungi mereka dari celaan dan bisik-bisik tetangga, menerbitkan rasa hormat dari bawahan dan kolega, mengundang kepatuhan peserta didik atau warga Negara biasa, dan tentu saja simpati lawan jenis.
Tidak masalah seandainya citra atau imaji itu difungsikan sebagai stimulus, atau semacam bensin untuk melaju kencang mewujudkan mimpi-mimpinya. Sebagai cambuk agar tak mudah puas dan lebih berhati-hati berkata, berbuat dan bertindak agar imaji yang dibangun dengan susah payah tidak menjadi muspro, alias sia-sia. Namun, yang sering terjadi adalah, kepuasan dini, kadang-kadang sedikit narsis, cenderung dialami mereka yang menderita ketergantungan terhadap citra.

Manakala dihadapkan pada perbedaan yang amat besar antara angan-angan dan kenyataan, orang cenderung akan memilih potong kompas untuk bertindak dan atau menganalisa permasalahan. Konon kabarnya orang-orang yang tidak beruntung telah tersesat dan memilih kriminalitas sebagai jalan keluar. Namun segolongan lain lebih tidak beruntung. Mereka tahu sedang bermimpi, namun dipaksakannya akal sehat menerima dengan bangga dan kepala tegak kejayaan dan kegemilangan dan keanggunan simbol-simbol, seremoni, upacara-upacara, topeng-topeng norma dan kedok-kedok moralitas. Mereka meyakini ke ‘ini aku’-annya telah berhasil memanipulasi lingkungan sekitar dan tak lagi disiksa rasa putus asa. Puas sudah dipercaya, ditakuti dan disanjung orang dengan hanya menelorkan kesan dan seolah-olah, sebelum atau bahkan tanpa tindakan sama sekali.

Membalik Seolah-olah
Masyarakat mensyukuri, bersimpati dan prihatin penetapan status tersangka kepada vokalis tersohor ARL atas beredarnya rekaman mesranya dengan sesama seleb, LM dan CT. Mereka berharap vonis segera dijatuhkan seberat-beratnya, sebagai harga mahal yang wajib dibayar atas perilaku amoral dan merusak generasi muda. Para orang tua, terutama yang memiliki anak gadis, menarik nafas lega, dan menganggap selesailah sudah masalah yang mengganggu tidur mereka siang dan malam. Namun, apakah benar permasalahan kita selesai sampai disini saja ? Apakah memang benar seorang playboy cap sandal jepit pantas mendapat hukuman lebih berat daripada koruptor ? Memang sungguh tak masuk di logika dan sama sekali tak berkonsep jelas manakala seseorang merekam kemesraannya dengan kekasih A sampai Z dengan kamera video. Namun, atas dasar izin siapakah Negara merasa perlu mengatur kapan, dimana dan bagaimana warga negara melampiaskan nafsu syahwatnya ?

Kita ingin menjadi bangsa yang sempurna meraih cita-cita setinggi langit dengan membanggakan keadiluhungan budaya dan kepatuhan kita terhadap perintah agama masing-masing. Dan meyakini bahwa kemerosotan moral dan perilaku adalah penyebab utama Tuhan tidak menurunkan rejeki dan kesejahteraan merata, sebaliknya hujaman bencana alam dan kesulitan hidup pada kita. Lantas, mengapa orang-orang bule yang perilakunya lebih bejat, sangat tidak bersusila dan menjijikkan itu lebih makmur daripada kita ?

Semua tak lepas dari pola pikir nasional kita yang mengagungkan semua kegemerlapan, kebaikan, kesucian perilaku artifisial, alias seolah-olah, alias di mukanya saja. Apakah di kemudian hari benar terbukti suci murni atau berekor serigala atau menohokkan keris di belakangnya, itu urusan nomor ke seribu sekian ratus. Seorang pejabat koruptor yang beberapa kali naik haji seribu kali lebih berharga di mata masyarakat daripada seorang pemuda putus sekolah peminum yang mengamen di jalan untuk memberi makan keluarganya. Seorang raja feudal berselir tujuh yang hidup di istana bergelimang harta benda mutu manikam jauh lebih mulia daripada pria pribumi bertato yang hidup di pedalaman tengah rimba belantara. Seorang diva tersohor berkerudung yang enam kali kawin dan cerai lebih dipuji orang daripada seorang mantan seleb muda yang khilaf dan ditinggalkan pacar yang sudah menghamilinya namun kukuh menolak aborsi dan memutuskan menjadi single parent.

Secara tidak kita sadari pola pikir semacam ini telah memenjarakan kita selamanya. Raga, selama tidak melanggar hukum, bebas bepergian kemana saja. Akan tetapi, pikiran alias isi kepala kita tidak akan bisa melangkah kemana-mana. Stuck, stagnan, tidak berkembang. Menutup pintu untuk segala macam dan bentuk dialog, wacana dan strategi baru. Menyirnakan tanpa bekas jejak rintisan para pendahulu untuk memulai perubahan. Memutus harapan mereka yang selalu berpikiran positif akan tercapainya ketentraman, dan dengan sendirinya tertundalah kesejahteraan hidup.

Mengapa tidak bisa kita kedepankan kejujuran dan ketidakpura-puraan sebagai modal dan langkah awal untuk me-restart perubahan di negeri ini ? Okelah seandainya hal-hal rumit semacam pelurusan sejarah dan penegakan hukum terlampau berat untuk tulang uzur kita. Untuk menghemat waktu dan energi, ada baiknya kita mengubah strategi yang lebih sederhana. Warga asli kota Malang memakai bahasa walikan ( terbalik ) dalam percakapan sehari-hari dengan rekan sebaya. Misalnya, kata singo ( singa ) dibalik menjadi ‘ongis ‘. Edan menjadi ‘ nade ‘, dll. Terminologi walikan itu saya sarankan menjadi bahan pertimbangan kita semua dalam memandang sekaligus menyelesaikan masalah. Masalah A muncul berulang kali. Diatasi dengan berbagai macam cara halus hingga kasar tetap tidak tuntas. Ada apa gerangan ? Siapa yang salah ? Kalau biasanya kita menganggap ‘ mereka ‘ yang bersalah, mari sekarang kita balik arahnya. Bagaimana kalau ternyata kitalah yang salah ?

Begitulah. Kejadian video vulgar semestinya tidak perlu sampai membuat kita kebingungan dan cemas, seandainya sejak dini kita sudah menegaskan dan memperkenalkan secara terbuka permasalahan hubungan intim dan dunia orang dewasa berikut segala dampaknya kepada putra putri kita. Lagipula, menjadi orang tua dan ubanan bukan berarti kita harus jadul, apalagi gaptek. Kenalilah dunia anak-anak dan remaja itu supaya kita bisa memahami jalan pikiran, keinginan dan kenakalan mereka.